Suara Online – Jombang – Pawai Sahur on The Road (SOTR) di Desa Jatibanjar, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang, Jawa Timur mendadak viral dan menuai kontroversi.
Kegiatan yang menggunakan sound horeg dan menampilkan tarian yang dinilai tidak pantas itu ramai dibicarakan di media sosial.
Mengutip informasi dari CNN Indonesia, kegiatan SOTR tersebut menjadi sorotan karena selain menggunakan sound system berukuran besar atau sound horeg, juga terdapat aksi tarian seksi yang dianggap tidak sesuai dengan suasana bulan Ramadan.
Video kegiatan tersebut beredar luas dan memancing berbagai reaksi dari warganet. Tak sedikit yang menyayangkan aksi tersebut karena dinilai mengganggu ketertiban serta mencoreng makna sahur di bulan suci.
Mengutip dari detikJatim, Kapolsek Ploso Kompol Achmad Chairuddin menyatakan kegiatan tersebut digelar tanpa izin dari pihak kepolisian maupun pemerintah desa setempat.
“Tanpa izin, kami juga tidak mengizinkan. Termasuk kadesnya (Jatibanjar) juga tidak tahu, tahunya dari warganya,” tegas Chairuddin, Senin (23/2).
Pihak kepolisian menyebut peristiwa serupa pernah terjadi pada pekan pertama Ramadan tahun lalu. Karena itu, Polsek Ploso mengaku telah melakukan langkah antisipasi secara preemtif agar kejadian serupa tidak kembali terulang pada minggu berikutnya.
Kegiatan tersebut memunculkan pro dan kontra di tengah masyarakat. Sebagian warga menilai SOTR sebagai bentuk kreativitas anak muda dalam meramaikan sahur.
Namun, tidak sedikit pula yang menilai penggunaan sound horeg serta aksi tarian yang dianggap vulgar melampaui batas dan tidak mencerminkan nilai Ramadan.
Hingga kini, aparat kepolisian masih melakukan pendalaman terkait penyelenggara kegiatan tersebut serta potensi pelanggaran yang terjadi.
Peristiwa ini kembali menambah daftar polemik penggunaan sound horeg di berbagai daerah, khususnya ketika kegiatan dilakukan tanpa izin dan memicu keresahan warga.




