Suara Online – Indonesia kerap disebut sebagai negara dengan potensi besar. Sumber daya alam melimpah, jumlah penduduk produktif tinggi, serta posisi geografis yang strategis di jalur perdagangan dunia.
Namun hingga hari ini, status negara maju masih terasa seperti wacana yang terus diulang tanpa kepastian arah.
Pernyataan bahwa Indonesia tidak akan pernah menjadi negara maju memang terdengar pesimistis.
Tetapi kalimat itu bisa menjadi refleksi jika pola lama terus dipertahankan tanpa perubahan mendasar.
Salah satu persoalan utama terletak pada budaya disiplin yang belum mengakar kuat.
Di banyak negara maju, kepatuhan terhadap aturan menjadi kebiasaan kolektif. Tepat waktu, tertib berlalu lintas, taat antre, dan patuh pada regulasi adalah hal yang dianggap biasa.
Di Indonesia, aturan sering kali dipandang fleksibel. Pelanggaran kecil dianggap sepele, padahal kebiasaan kecil itulah yang membentuk wajah bangsa.
Selain itu, persoalan integritas juga masih menjadi pekerjaan rumah besar. Korupsi bukan hanya terjadi dalam skala besar di tingkat elite, tetapi juga dalam bentuk-bentuk kecil yang dinormalisasi.
Praktik suap, titip jabatan, hingga penyalahgunaan wewenang sering kali dianggap bagian dari “cara kerja sistem”.
Selama kejujuran belum menjadi nilai utama dalam kehidupan publik, pembangunan akan terus berjalan pincang.
Masalah pendidikan juga tidak bisa diabaikan. Pendidikan seharusnya menjadi fondasi kemajuan bangsa, tetapi kualitas dan pemerataannya masih menjadi tantangan.
Sistem yang terlalu fokus pada nilai angka tanpa mendorong daya pikir kritis dan kreativitas membuat generasi muda kurang siap bersaing secara global. Negara maju tidak hanya mencetak lulusan, tetapi melahirkan inovator.
Di sisi lain, ada pula persoalan mentalitas cepat puas dan kurang konsisten. Setiap pergantian kepemimpinan sering kali diikuti perubahan arah kebijakan. Program yang belum matang dihentikan, diganti dengan visi baru yang belum tentu berkelanjutan. Padahal kemajuan membutuhkan konsistensi jangka panjang, bukan sekadar proyek lima tahunan.
Partisipasi masyarakat pun belum sepenuhnya optimal. Banyak yang gemar mengeluh terhadap kondisi negara, tetapi enggan terlibat aktif dalam proses perubahan.
Demokrasi yang sehat membutuhkan warga yang peduli dan mau berkontribusi, bukan sekadar menjadi penonton yang bersuara ketika kecewa.
Namun, semua ini bukan berarti Indonesia benar-benar tidak bisa maju. Potensi itu tetap ada dan nyata.
Hanya saja, kemajuan tidak akan datang jika kebiasaan lama terus dipertahankan. Negara maju tidak lahir dari sumber daya semata, tetapi dari perubahan pola pikir, budaya disiplin, integritas, dan komitmen bersama.
Mungkin persoalannya bukan apakah Indonesia mampu menjadi negara maju atau tidak. Pertanyaannya adalah, apakah kita benar-benar siap berubah?
Selama perubahan hanya menjadi wacana dan bukan tindakan, maka status negara maju akan tetap menjadi mimpi yang terus diulang tanpa pernah benar-benar diwujudkan.
Baca Juga : 5 Dosa Masyarakat Indonesia yang Sulit Dimaklumi




