Dulu, banyak orang merasa harus ikut setiap ajakan nongkrong, datang ke setiap acara, atau selalu mengikuti tren terbaru. Rasanya takut kalau sampai ketinggalan cerita atau momen seru yang sedang dialami orang lain.
Namun belakangan, pola pikir itu mulai berubah. Kini semakin banyak anak muda yang justru merasa tidak masalah jika melewatkan sebuah acara demi beristirahat, menghabiskan waktu di rumah, atau melakukan hal yang benar-benar mereka sukai. Fenomena ini dikenal dengan istilah JOMO atau Joy of Missing Out.
Kalau FOMO (Fear of Missing Out) membuat seseorang takut tertinggal, JOMO justru mengajarkan bahwa melewatkan sesuatu bukanlah masalah, bahkan bisa membawa ketenangan.
Dari Takut Ketinggalan Jadi Lebih Tenang
Media sosial membuat kita mudah mengetahui apa yang sedang dilakukan orang lain. Dalam hitungan detik, kita bisa melihat teman sedang liburan, menghadiri konser, atau menikmati makan malam di tempat yang sedang viral.
Tanpa disadari, hal itu bisa memunculkan keinginan untuk selalu ikut agar tidak merasa tertinggal. Namun, banyak orang mulai menyadari bahwa tidak semua hal harus diikuti.
Daripada memaksakan diri datang ke acara yang sebenarnya tidak ingin dihadiri, sebagian orang kini memilih menghabiskan waktu dengan cara yang membuat mereka lebih nyaman.
Berani Bilang “Nggak” Bukan Berarti Antisosial
Masih ada anggapan bahwa menolak ajakan berarti tidak menghargai teman atau menjadi pribadi yang antisosial. Padahal, tidak selalu begitu.
JOMO lebih menekankan pada kemampuan seseorang mengenali batas dirinya. Kalau sedang lelah, tidak ada salahnya memilih beristirahat. Kalau sedang ingin menikmati waktu sendiri, itu juga bukan sesuatu yang harus merasa bersalah.
Menurut American Psychological Association (APA), menetapkan batasan (healthy boundaries) merupakan salah satu cara menjaga kesehatan mental dan membantu seseorang mengelola stres dengan lebih baik.
Waktu Sendiri Kini Jadi Kemewahan
Menariknya, banyak orang mulai menikmati aktivitas yang dulu dianggap membosankan.
Membaca buku, menonton film di rumah, mencoba resep baru, merawat tanaman, atau sekadar menikmati secangkir kopi tanpa gangguan kini justru menjadi cara untuk mengisi ulang energi.
Bagi sebagian orang, akhir pekan yang tenang terasa jauh lebih menyenangkan daripada jadwal yang penuh dengan berbagai kegiatan.
Media Sosial Tetap Ada, Tapi Tidak Lagi Mengendalikan
JOMO bukan berarti berhenti menggunakan media sosial. Banyak orang yang tetap aktif membuka Instagram atau TikTok, tetapi tidak lagi merasa harus meniru semua yang mereka lihat.
Mereka mulai menyadari bahwa setiap orang memiliki ritme hidup yang berbeda. Apa yang menyenangkan bagi orang lain belum tentu cocok untuk diri sendiri.
Laporan Global Wellness Institute juga menunjukkan bahwa semakin banyak masyarakat yang mulai memprioritaskan kesejahteraan mental, keseimbangan hidup, dan kualitas waktu pribadi sebagai bagian dari gaya hidup sehat.
Kesimpulan
JOMO bukan tentang menolak semua ajakan atau menghindari pergaulan. Lebih dari itu, JOMO adalah keberanian untuk memilih apa yang benar-benar membuat diri merasa nyaman, tanpa terus-menerus membandingkan hidup dengan orang lain.
Sesekali melewatkan konser, nongkrong, atau tren yang sedang viral bukan berarti kita kehilangan sesuatu. Bisa jadi, justru di situlah kita menemukan waktu untuk beristirahat, mengenal diri sendiri, dan menikmati hidup dengan cara yang lebih sederhana.
Baca Juga: Maraknya FOMO di Kalangan Gen Z! Tips Mengontrol Diri Sendiri!










