Suaraonline.com – Fragile masculinity merupakan sebuah istilah ketidakstabilan yang ada dalam diri pria karena ia selalu memaksa untuk menunjukkan sisi maskulinnya. Mereka para pria yang memiliki gejala ini akan selalu merasa terpuruk jika tidak mampu memenuhi standar di lingkungannya.
Gejala fragile masculinity bisa menjadi hal yang membahayakan apabila tidak bisa dikontrol dengan baik dan bijak. Pria bisa saja melakukan ancaman dan kekerasan pada wanita jika si pria memiliki gejala ini.
Lalu apa saja dampak dan cara mengatasinya? Yuk simak bersama!
Dampak Gejala Fragile Masculinity
Berikut ini adalah dampak yang dapat terlihat pada pria yang memiliki gejala fragile masculinity!
1. Pembatasan Kesetaraan Gender
Pria yang memiliki gejala ini akan memberikan batasan kepada wanita. Laki-laki yang tidak mampu mengontrol gejala fragile masculinity yang dimilikinya, maka ia akan terus menerapkan budaya patriarki yang lebih lama.
2. Ketidakmampuan Berempati
Pria yang memiliki gejala fragile masculinity adalah pria yang minim sekali mempunyai empati. Ia lebih fokus mementingkan dirinya sendiri dan ketika bersama pasangan ia juga tidak mendahulukan pasangannya.
3. Penekanan Terhadap Perempuan
Untuk memperkuat identitas maskulinnya, biasanya laki-laki yang memiliki gejala ini akan menekan perempuan dan sering menjadikan perempuan itu sebagai sebuah ancaman.
Oleh sebab itu, pria yang memiliki gejala ini akan membatasi perempuan untuk bergerak dan bertumbuh untuk mencapai mimpinya.
Cara Menghadapi Pasangan dengan Gejala Fragile Masculinity
Meskipun memiliki tantangan tersendiri dalam menghadapi pasangan yang memiliki gejala ini, namun bukan menjadi hal yang mustahil untuk dapat dilakukan. Berikut ini cara menghadapi pasangan dengan gejala fragile masculinity:
1. Kesabaran dan Empati
Memiliki pasangan dengan gejala fragile masculinity harus dihadapi dengan kesabaran dan penuh rasa empati. Ketika kita memiliki keduanya, maka kita akan sadar pentingnya untuk mengerti perasaan pasangan.
2. Dukung Pasangan Berkembang Lebih Baik
Cobalah untuk mendukung pasangan berkembang jauh lebih baik lagi. Segala perubahan memang membutuhkan proses yang tidak mudah, namun ketika dihadapi bersama maka segala masalah dapat dicarikan jalan keluarnya.
3. Ajak Bergabung Komunitas Positif
Daripada pasangan bergaul dengan teman-teman dan circle toxicnya, sebaiknya ajaklah untuk bergabung dengan komunitas yang positif dan dapat membantunya untuk berkembang serta upgrade diri.
4. Jalin Hubungan yang Sehat
Jalin hubungan yang sehat dengan pasangan, jangan lupa untuk senantiasa mendukungnya dalam kebaikan dan prosesnya bertumbuh. Jangan biarkan pasangan tanpa arah. Bukalah komunikasi yang dapat membuat pasangan menjadi lebih terbuka.
Ajak pasangan untuk bisa berdiskusi dan meluapkan perasaannya sehingga tidak akan ada hal yang perlu ditakutkan dan dikhawatirkan.
5. Minta Bantuan Profesional
Jika dirasa gejala fragile masculinity pasangan sudah semakin tidak bisa diatasi, maka jangan ragu untuk mengajak pasangan untuk meminta bantuan profesional. Psikolog akan membantu melihat dari sudut pandang lain untuk membantu menyelesaikan gejala tersebut.
Itulah tadi pembahasan mengenai dampak dan cara mengatasi pasangan dengan gejala fragile masculinity. Pada dasarnya gejala ini mungkin memang tidak membahayakan kesehatan, namun dampak yang dihasilkan sangatlah terasa terutama pada wanita.
Karena gejala fragile masculinity, wanita cenderung menjadi takut untuk menyuarakan hak-hak dan kebebasannya. Padahal yang sebenarnya, pria maupun wanita memiliki kesetaraan yang sama.
Baca Juga: Pentingnya Self Reminder: Kunci Sukses Dimulai dari Hal Kecil dan Inilah 5 Manfaatnya!
Penulis: Suci Wulandari




