Suara Online – Setiap musim hujan tiba, kita hampir selalu melihat berita yang sama: banjir di mana-mana, sungai meluap, dan tumpukan sampah menjadi kambing hitam utama.
Anehnya, kejadian seperti ini terus berulang dari tahun ke tahun tanpa perubahan berarti.
Pertanyaannya sederhana: kenapa masyarakat Indonesia masih bandel membuang sampah sembarangan, terutama ke sungai?
Padahal sejak kecil kita sudah diajarkan untuk menjaga kebersihan. Di sekolah ada pelajaran tentang lingkungan, di televisi sering ada kampanye kebersihan, bahkan di banyak tempat sudah dipasang spanduk larangan membuang sampah. Namun kenyataannya, kebiasaan buruk ini tetap sulit hilang.
Salah satu alasan paling mendasar adalah rendahnya kesadaran kolektif. Banyak orang masih berpikir bahwa membuang satu bungkus plastik atau satu kantong sampah ke sungai tidak akan berdampak apa-apa. Mereka lupa bahwa ribuan orang lain juga melakukan hal yang sama setiap hari.
Akhirnya, sungai berubah menjadi tempat sampah raksasa.
Selain itu, budaya malas juga ikut berperan besar. Tidak sedikit orang yang sebenarnya tahu bahwa tindakannya salah, tetapi tetap melakukannya karena dianggap lebih praktis.
Daripada repot mencari tempat sampah, lebih mudah melemparnya begitu saja ke selokan atau sungai.
Masalah lainnya adalah kebiasaan yang sudah mengakar. Di beberapa daerah, membuang sampah ke sungai sudah dianggap hal biasa sejak puluhan tahun lalu.
Anak-anak melihat orang tuanya melakukan hal tersebut, lalu menirunya tanpa merasa bersalah.
Akibatnya, perilaku buruk ini terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Faktor penegakan hukum juga tidak bisa diabaikan. Aturan tentang larangan membuang sampah sebenarnya sudah ada.
Namun, sanksi yang lemah dan jarangnya penindakan membuat masyarakat tidak merasa takut.
Banyak orang berpikir, “Buang sampah sembarangan juga tidak akan ditangkap.”
Ditambah lagi, fasilitas pengelolaan sampah di beberapa wilayah memang belum memadai.
Tempat pembuangan sementara terbatas, petugas kebersihan kurang, dan sistem pengangkutan sampah tidak berjalan optimal.
Kondisi ini sering dijadikan alasan pembenar untuk tetap membuang sampah ke sungai.
Padahal, keterbatasan fasilitas seharusnya tidak menjadi alasan untuk merusak lingkungan.
Dampak dari kebiasaan buruk ini sangat nyata. Sungai yang kotor menyebabkan banjir, menimbulkan bau tidak sedap, merusak ekosistem, bahkan memicu berbagai penyakit. Ironisnya, yang paling dirugikan justru masyarakat itu sendiri.
Kita sering marah ketika banjir datang, tetapi lupa bahwa sebagian penyebabnya adalah perilaku kita sehari-hari.
Perubahan sebenarnya bisa dimulai dari hal kecil. Membuang sampah pada tempatnya, memilah sampah rumah tangga, serta berani menegur orang yang membuang sampah sembarangan adalah langkah sederhana tetapi sangat berarti.
Kesadaran lingkungan tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Ini adalah tanggung jawab bersama sebagai warga negara.
Selama pola pikir “yang penting bukan saya saja yang kotor” masih ada, kebiasaan membuang sampah sembarangan akan terus terjadi.
Dan selama itu pula, banjir serta sungai penuh sampah akan tetap menjadi pemandangan rutin di negeri ini.
Sudah saatnya masyarakat Indonesia berhenti bandel. Bukan demi siapa-siapa, tetapi demi kenyamanan hidup kita sendiri di masa depan.
Baca Juga : Faktanya, Soal Lingkungan Masyarakat Lebih Toxic dari Pemerintah




