Suara Online – Di media sosial, sebaliknya kabar perselingkuhan artis bisa trending berhari-hari. Potongan video selebritas bertengkar bisa dibahas di mana-mana.
Grup WhatsApp ramai, kolom komentar penuh, konten kreator berlomba membuat analisis.
Namun ketika isu politik penting muncul tentang kebijakan pajak, pendidikan, kesehatan, atau undang-undang baru responsnya sering kali jauh lebih sepi.
Fenomena ini memunculkan pertanyaan yang sering terdengar: kenapa orang Indonesia lebih suka gosip daripada isu politik?
Jawabannya tidak sesederhana “tidak peduli”. Ada banyak faktor sosial, psikologis, dan budaya yang berperan di baliknya.
Pertama, gosip terasa lebih ringan dan mudah dicerna. Politik sering kali dipenuhi istilah teknis, data, dan perdebatan yang rumit.
Tidak semua orang merasa nyaman atau percaya diri membahasnya, gosip tentang kehidupan pribadi publik figur lebih mudah dipahami karena bersifat emosional dan personal.
Kedua, gosip memberi hiburan. Di tengah tekanan ekonomi, pekerjaan, dan rutinitas harian, banyak orang mencari distraksi.
Drama kehidupan orang lain menjadi semacam pelarian dari masalah pribadi. Politik, di sisi lain, sering kali justru menambah stres karena berkaitan dengan konflik, perbedaan pendapat, dan ketidakpastian masa depan.
Ketiga, ada faktor kepercayaan. Sebagian masyarakat merasa suaranya tidak terlalu berdampak pada kebijakan politik.
Rasa apatis muncul karena menganggap keputusan tetap akan diambil oleh elite tertentu.
Ketika rasa memiliki terhadap proses politik lemah, minat untuk mengikuti isu politik pun ikut menurun.
Keempat, algoritma media sosial juga berperan besar. Konten yang memicu emosi cepat marah, kaget, atau penasaran lebih mudah viral.
Gosip selebritis sering kali memenuhi kriteria itu. Sementara pembahasan kebijakan publik yang serius cenderung kalah cepat dalam menarik perhatian massal.
Namun, apakah ini berarti masyarakat sepenuhnya tidak peduli politik? Tidak juga. Banyak orang sebenarnya peduli, tetapi hanya ketika dampaknya terasa langsung dalam kehidupan mereka misalnya kenaikan harga kebutuhan pokok, perubahan aturan kerja, atau kebijakan pendidikan anak.
Masalahnya bukan pada kemampuan masyarakat memahami politik, melainkan pada cara isu itu disajikan.
Politik sering dikemas terlalu formal, terlalu elitis, dan jauh dari bahasa sehari-hari. Padahal keputusan politik memengaruhi hampir semua aspek kehidupan: harga beras, biaya sekolah, layanan kesehatan, hingga lapangan pekerjaan.
Gosip memang lebih menghibur, tetapi isu politik menentukan masa depan. Ketika perhatian publik lebih besar pada drama selebritas dibanding kebijakan publik, ruang diskusi menjadi timpang. Padahal demokrasi yang sehat membutuhkan warga yang aktif dan kritis.
Bukan berarti gosip harus dihilangkan. Hiburan tetap bagian dari kehidupan. Namun keseimbangan penting.
Mengetahui kabar artis mungkin membuat kita terhibur sesaat, tetapi memahami kebijakan publik bisa melindungi hak dan kepentingan kita dalam jangka panjang.
Pertanyaannya bukan lagi kenapa orang Indonesia lebih suka gosip daripada politik. Mungkin pertanyaannya adalah: bagaimana membuat isu politik terasa lebih relevan, lebih dekat, dan lebih mudah dipahami oleh semua kalangan?
Karena pada akhirnya, masa depan bangsa tidak ditentukan oleh siapa yang sedang viral, tetapi oleh kebijakan yang kita biarkan berlalu tanpa perhatian.
Baca Juga : Dunia Kesehatan Indonesia Tidak Baik-Baik Saja: Ketika Sehat Hanya untuk yang Punya Uang




