Suara Online – Kata passion sering digambarkan sebagai kompas hidup, sesuatu yang menentukan arah dan tujuan yang ingin kita capai.
Banyak orang bilang, “Ikuti passionmu, nanti kamu akan menemukan hidup yang kamu impikan.”
Tapi bagaimana kalau kenyataannya hal tersebut justru mengecewakanmu? Atau yang lebih jujur lagi, bagaimana kalau sebenarnya kamu sendiri yang tidak ingin memperjuangkannya, lalu diam–diam berlindung di balik alasan bahwa passion-mu gagal?
Banyak orang menyalahkan itu ketika hidup terasa jalan di tempat. Mereka bilang passion tidak menghasilkan uang, terlalu sulit dikejar, atau tidak realistis.
Padahal, sering kali yang terjadi adalah kita sendiri yang tidak bergerak cukup jauh untuk memperjuangkannya.
Ketika Passion Tidak Berjalan Sesuai Ekspektasi
Misalnya kamu bilang kemampuan kamu ada di dunia public speaking. Kamu suka berbicara, suka berdiskusi, dan suka memberikan pendapat. Tapi sampai hari ini, kamu tidak benar-benar mengejar itu.
Kamu tidak ikut kelas, tidak melatih kemampuan, bahkan tidak mengambil peluang kecil seperti jadi host acara internal kantor atau ikut komunitas diskusi.
Lalu ketika orang lain berkembang lebih cepat, kamu merasa hal yang kamu miliki tersebut mengecewakan. Padahal, kamu sendiri yang tidak memeliharanya. Passion itu bukan tanaman liar yang tumbuh sendiri.
Passion adalah tanaman yang butuh dirawat dikasih waktu, tenaga, usaha, dan komitmen.
Berpura-Pura Bingung Tentang “Untuk Apa Aku Hidup?”
Sering juga seseorang berkata mereka bingung tujuan hidupnya apa. Padahal kemampuan mereka sebenarnya sudah jelas, tetapi tidak diperjuangkan.
Jika passion adalah bagian dari hidupmu, kenapa kamu masih bingung tentang “Aku ini hidup untuk apa?”
Jawabannya sering kali sederhana tetapi tidak enak diakui:
Karena kamu belum berani keluar dari zona nyaman.
Kamu lebih nyaman mengeluh daripada berusaha. Kamu lebih nyaman membayangkan daripada memulai. Kamu terlalu takut gagal sampai-sampai tidak berani mencoba.
Ketika Uang Menjadi Dalih untuk Mengabaikan Passion
Ada kalanya passion dikorbankan hanya demi mengejar uang. Dan itu bukan hal yang salah. Hidup memang butuh uang.
Tapi kalau setiap hari kamu merasa kosong karena menjauh dari gairah yang kamu miliki, itu tanda kamu perlu menata ulang arah hidupmu.
Bukan berarti kamu harus berhenti kerja dan mengejar hal tersebut sepenuhnya. Tidak semua orang punya privilege itu. Tapi yang perlu kamu pahami adalah:
Kamu tetap bisa memperjuangkan hal tersebut meski perlahan. Satu jam seminggu. Dua jam seminggu. Setiap kali ada waktu luang.
Kemampuan itu tidak akan berkembang kalau kamu diamkan, tapi ia akan tumbuh kalau kamu memberi ruang.
Passion Tidak Akan Berarti Kalau Tidak Ada Tindakan
Banyak orang punya gairah. Hanya sedikit yang benar-benar merawatnya. Passion tidak akan mengubah hidupmu kalau kamu tidak mengubah dirimu dulu.
Kamu boleh realistis, kamu boleh tetap kerja untuk memenuhi kebutuhan hidup, tapi jangan sampai kamu mematikan sisi diri yang membuat hidupmu lebih bermakna.
Kalau kamu mau menggapai mimpi, kamu harus mulai dari memperjuangkan kemampuan-mu meskipun hanya 1% langkahmu.
Bagaimana kalau menurutmu kenyataannya hal tersebut sudah mengecewakanmu? atau kamu mengelak ternyata kamu sendiri yang tidak ingin memperjuangkan itu sehingga seakan kamu berlindung dibaliknya sehingga kamu menyalahkan? lantas kalau passion bagian dari hidupmu kenapa kamu masih bingung untuk apa aku hidup?
contoh kemampuan kamu di public speaking, katanya kamu suka ngomong suka berdiskusi tapi kenapa ga kamu kejar? kenapa masih berkutat di zona nyamanmu? apa memang kamu tidak menggubris kemampuan yang kamu miliki saat ini?
lalu bagaimana kamu menggapai semua mimpimu kalau kemampuanmu saja kamu biarkan, tidak kamu kejar dan asah, atau hanya tuntutan hidup, kamu merelakan kemampuanmu hanya untuk mengejar uang, tapi realistis saja aku butuh uang




