Suara Online – Pernah merasa badan sebenarnya masih kuat, tetapi pikiran rasanya sudah penuh dan sulit diajak bekerja sama? Kondisi ini sering disebut sebagai kelelahan mental, yaitu saat otak bekerja terlalu keras tanpa jeda yang cukup. Banyak orang tidak menyadari hal ini karena secara fisik terlihat baik-baik saja.
Kelelahan mental biasanya muncul akibat tekanan berpikir yang terus-menerus. Tuntutan pekerjaan, ekspektasi sosial, overthinking, hingga kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain dapat membuat pikiran terasa sesak. Akibatnya, fokus menurun, emosi menjadi lebih sensitif, dan motivasi perlahan menghilang.
Berbeda dengan kelelahan fisik yang mudah dikenali, kelelahan mental sering disalahartikan sebagai rasa malas atau kurang disiplin.
Padahal, otak yang lelah membutuhkan istirahat sama seperti tubuh. Jika terus diabaikan, kondisi ini bisa memicu stres berkepanjangan, burnout, bahkan gangguan kesehatan mental.
Salah satu tanda umum pikiran lebih lelah daripada tubuh adalah sulit berkonsentrasi, mudah tersinggung, dan merasa hampa meski sedang tidak melakukan aktivitas berat.
Tidur cukup pun kadang tidak langsung membuat segar karena yang dibutuhkan bukan hanya tidur, tetapi jeda dari beban mental.
Mengatasi kelelahan mental bisa dimulai dengan langkah sederhana. Mengurangi stimulasi berlebihan, membatasi konsumsi informasi, dan memberi ruang untuk diam sejenak sangat membantu.
Menulis jurnal, berjalan tanpa tujuan, atau sekadar tidak melakukan apa-apa juga bisa menjadi bentuk pemulihan.
Memahami bahwa kelelahan mental itu nyata adalah langkah awal yang penting. Dengan mengenali batas diri, kita bisa belajar merawat pikiran dengan lebih bijak, tanpa harus menunggu tubuh ikut tumbang.
Baca Juga : Membedakan Intuisi dan Overthinking agar Tidak Salah Mengambil Keputusan




