Suaraonline.com – Pernyataan “kuliah itu scam” menjadi perbincangan hangat di Indonesia terutama di media sosial. Hal ini berawal dari salah satu influencer Indonesia yang dengan lugas memberikan pandangannya mengenai kuliah yang dianggap hanya scam.
Pernyataan ini tentunya menuai pro dan kontra di kalangan masyarakat. Sebagian masyarakat merasa pernyataan ini seperti mengkerdilkan peran kuliah, yang seharusnya menjadi wadah di mana generasi muda berkembang, melatih pola pikir dan lainnya.
Namun, ada pertanyaan yang jarang diajukan kita pada diri sendiri, bagaimana jika kuliah kita justru memang “scam” yang berasal dari kebiasaan kita sendiri?
Kuliah kerap kali sering dipromosikan sebagai tiket menuju masa depan cerah. Gelar sarjana dianggap simbol keberhasilan, pintu masuk karier mapan, bahkan standar minimum untuk dihargai dalam pergaulan profesional. Tidak jarang banyak orang yang kuliah bukan untuk menambah ilmu, tapi malah demi gengsi sosial.
Scam itu terjadi ketika mahasiswa sendiri menjalani kuliah hanya demi gelar, bukan demi proses belajar. Ketika nilai menjadi tujuan utama, sementara ilmu ditempatkan sebagai nomor dua. Parktik berburu IPK tinggi, tetapi enggan membaca lebih dari yang dituntut dosen. Tugas dikerjakan sekadarnya, asal selesai. Tugas kelompok selalu ngilang, diskusi kelas dihindari. Bahkan praktik titip absen dianggap lumrah, yang penting tercatat hadir agar nilai aman, proses belajar dianggap tidak terlalu penting.
Padahal esensi kuliah bukan sekadar angka di transkrip. Proses berpikir kritis, kemampuan menganalisis, keberanian berargumentasi, hingga kedisiplinan mengerjakan tugas tepat waktu adalah bagian tak terpisahkan dari pendidikan tinggi. Ketika semua itu diabaikan, yang tersisa hanyalah gelar tanpa fondasi.
Ironisnya, budaya ini sering dibenarkan secara sosial. “Yang penting lulus cepat.” “IPK bagus biar gampang kerja.” Akhirnya, kampus dipandang sebagai formalitas administratif menuju dunia kerja. Padahal, banyak perusahaan kini lebih menilai kemampuan nyata ketimbang sekadar IPK. Gelar bisa membuka pintu, tetapi kompetensi yang menentukan apakah seseorang bisa bertahan.
Kuliah menjadi scam ketika mahasiswa memanipulasi sistem demi hasil instan. Titip absen, menyalin tugas, atau belajar sistem kebut semalam hanya untuk ujian. Secara administratif mungkin lulus, tetapi secara substansi kosong. Saat memasuki dunia profesional, barulah terasa dampaknya, sulit berpikir mandiri, gagap menghadapi masalah, atau tidak percaya diri dalam diskusi.
Lebih jauh lagi, kebiasaan mengejar hasil tanpa proses bisa terbawa hingga dunia kerja. Mentalitas instan, ingin cepat diakui tanpa mau berproses, sering kali berakar dari cara menjalani kuliah yang salah. Pendidikan yang seharusnya membentuk karakter justru berubah menjadi sekadar ritual mendapatkan ijazah.
Tentu tidak semua mahasiswa seperti itu. Banyak yang benar-benar memanfaatkan masa kuliah untuk mengeksplorasi diri, membangun jaringan, dan mengasah kemampuan. Namun, penting untuk mengingatkan bahwa kuliah bukan jaminan sukses jika dijalani dengan setengah hati.
Pada akhirnya, kuliah hanya menjadi scam ketika kita memperlakukannya sebagai formalitas. Gelar tanpa ilmu adalah investasi yang rapuh. Proses mungkin melelahkan, penuh revisi, dan menuntut komitmen. Tetapi justru di situlah nilai sebenarnya.
Jika kuliah hanya dikejar demi status sosial dan selembar ijazah, maka yang kita tipu bukan kampus, melainkan diri sendiri. Karena setelah wisuda selesai dan foto diunggah ke media sosial, yang tersisa bukan lagi angka IPK, melainkan kapasitas diri yang sesungguhnya.
Editor: Annisa Adelina Sumadillah.




