Salatiga, Suara Online – Insiden kecelakaan maut yang terjadi di Jalan Lingkar Salatiga, Simpang Empat Randuacir, Argomulyo, Kamis pagi (29/1/2026), kembali membuka perbincangan soal budaya berkendara yang cenderung tergesa dan minim pertimbangan risiko, khususnya di kalangan pengendara sepeda motor.
Informasi kejadian ini diketahui dari unggahan akun Instagram @portalsemarang, yang melaporkan kecelakaan antara sepeda motor dan truk pada jalur dengan arus lalu lintas cukup padat.
Dalam peristiwa tersebut, satu orang pengendara sepeda motor perempuan dinyatakan meninggal dunia di lokasi.
Berdasarkan keterangan kepolisian, pengendara motor mencoba melewati kendaraan besar dari sisi kiri, sebuah manuver yang kerap dianggap “jalan pintas” oleh sebagian pemotor.
Padahal, ruang gerak di sisi tersebut sangat terbatas dan berisiko tinggi, terlebih di kawasan persimpangan.
Praktik mendahului tanpa perhitungan sering kali berakar dari keinginan untuk tidak tertahan arus, meski harus mengorbankan aspek keselamatan.
Kondisi ini dinilai mencerminkan persoalan mendasar dalam perilaku berlalu lintas, bukan semata kesalahan teknis di jalan.
Kecelakaan tersebut berujung fatal setelah pengendara terjatuh dan mengalami benturan keras. Sementara pengemudi truk tidak mengalami luka.
Kerugian materiil tercatat relatif kecil, namun dampak kehilangan nyawa menjadi konsekuensi terberat.
Pihak kepolisian masih mendalami kejadian ini dan mengingatkan pengguna jalan untuk memahami batas aman berkendara, terutama saat berhadapan dengan kendaraan bermuatan besar. Keselamatan dinilai harus menjadi prioritas, bukan kecepatan atau keinginan mendahului.
Baca Juga : Satu Pemotor Tewas dalam Kecelakaan Truk dan Motor di Jalan Lingkar Salatiga




