Suara Online – Pertanyaan ini terdengar sederhana, tapi jawabannya cukup menohok: sebenarnya di negeri ini, lebih enak jadi rakyat pintar atau bodoh? Secara logika, tentu semua orang ingin jadi pintar.
Punya wawasan, paham hak sebagai warga negara, kritis terhadap kebijakan, dan berani bersuara ketika ada yang salah. Tetapi kenyataan sosial sering berkata lain.
Di Indonesia, jadi rakyat pintar kadang terasa melelahkan. Kamu tahu ada kebijakan keliru, kamu paham ada program yang tidak tepat sasaran, kamu melihat ketidakadilan terjadi di depan mata.
Lalu kamu protes, mengkritik, memberi masukan. Hasilnya apa? Sering kali kritik itu hanya dianggap angin lalu.
Pemerintah tetap berjalan dengan versinya sendiri. Aspirasi rakyat cuma dijadikan formalitas.
Didengar iya, ditindaklanjuti belum tentu. Akhirnya banyak orang sampai di titik pasrah dan berpikir, “buat apa capek-capek mikir, toh tidak ada yang berubah.”
Di sinilah ironi mulai terasa. Rakyat pintar sering dianggap cerewet. Rakyat kritis malah dicap pembangkang.
Sementara rakyat yang diam, manut, dan tidak banyak protes justru terlihat lebih aman.
Seolah-olah sistem memang lebih nyaman dengan warga yang tidak terlalu banyak tahu dan tidak terlalu banyak menuntut.
Padahal, negara maju justru lahir dari masyarakat yang kritis. Demokrasi yang sehat membutuhkan rakyat yang berani bertanya, bukan rakyat yang hanya menerima tanpa berpikir.
Masalahnya, budaya kita masih sering alergi terhadap kritik. Ketika ada warga mengeluh soal jalan rusak, dibilang kurang bersyukur.
Ketika ada yang menyoroti bantuan tidak tepat sasaran, dianggap memprovokasi. Ketika ada mahasiswa demo menyuarakan aspirasi, langsung dicap bikin keributan.
Lama-lama muncul pola pikir berbahaya: lebih baik diam saja daripada bersuara. Banyak orang akhirnya memilih menahan pendapat demi hidup yang terasa lebih tenang.
Di sisi lain, rakyat yang memilih bersikap “bodoh amat” justru hidupnya terlihat lebih santai. Tidak pusing memikirkan negara, tidak capek debat di media sosial, tidak repot memantau kebijakan publik.
Tapi pertanyaannya, sampai kapan kita mau seperti itu? Kalau semua orang memilih pura-pura bodoh, siapa yang akan mengawasi kekuasaan? Kalau semua kritik dianggap percuma, siapa yang akan memperbaiki keadaan? Negara tidak akan maju kalau rakyatnya hanya disuruh diam.
Memang benar, tidak semua kritik langsung membawa perubahan. Banyak aspirasi yang seolah menguap begitu saja. Tetapi bukan berarti bersuara itu sia-sia.
Setidaknya, suara kritis adalah bentuk kepedulian terhadap masa depan bangsa. Lebih baik menjadi rakyat pintar yang terus berusaha meski sering diabaikan, daripada menjadi rakyat bodoh yang nyaman dalam ketidaktahuan.
Karena pemerintah boleh saja mengabaikan kritik hari ini, tetapi suara rakyat yang terus menyala tidak akan selamanya bisa ditutup telinga.
Jadi jawabannya sebenarnya jelas. Lebih baik jadi rakyat pintar. Walaupun melelahkan, walaupun kadang dianggap angin lalu, walaupun sering bikin frustrasi, tetap lebih terhormat daripada memilih bodoh demi hidup yang pura-pura tenang.
Sebab masa depan bangsa tidak pernah dibangun oleh orang-orang yang memilih diam.
Baca Juga : Apa Jadinya Kalau Masyarakat Indonesia Lebih Sering “Manut” Kebijakan Pemerintah?




