Suara Online – Belakangan ini, kasus remaja yang mengakhiri hidupnya semakin sering diberitakan. Kondisi ini memunculkan pertanyaan serius: mengapa kematian dianggap jalan keluar paling mudah bagi remaja?
Sebenarnya, tidak ada remaja yang benar-benar ingin mati. Yang mereka inginkan adalah berhenti dari rasa sakit, tekanan, dan kelelahan emosional yang terasa tidak tertahankan.
Namun ketika masalah menumpuk tanpa solusi, sebagian dari mereka mulai melihat kematian sebagai satu-satunya cara untuk kabur.
Masa remaja adalah fase yang sangat rentan. Di usia ini, seseorang sedang mencari identitas diri, ingin diakui, sekaligus menghadapi tuntutan besar dari sekolah, keluarga, dan lingkungan pergaulan.
Ketika semua tekanan itu datang bersamaan, kemampuan mengelola emosi sering kali belum cukup matang.
Sayangnya, banyak remaja merasa tidak punya tempat bercerita. Mereka takut dianggap lemah, takut dimarahi, atau merasa tidak ada yang benar-benar peduli.
Akibatnya, masalah hanya dipendam sendiri hingga akhirnya meledak dalam bentuk keputusasaan.
Peran media sosial juga tidak bisa diabaikan. Perbandingan hidup yang terus-menerus, komentar negatif, hingga perundungan daring membuat kondisi mental remaja semakin rapuh.
Mereka melihat kehidupan orang lain tampak sempurna, sementara dirinya merasa paling gagal.
Di sisi lain, stigma terhadap kesehatan mental masih sangat kuat. Banyak orang menganggap depresi sebagai hal sepele atau kurang iman. Pola pikir seperti ini membuat remaja enggan mencari bantuan profesional.
Padahal, pikiran untuk mengakhiri hidup sering kali muncul karena seseorang merasa sendirian dan tidak punya pilihan lain. Jika ada dukungan yang tepat, sebagian besar kasus sebenarnya bisa dicegah.
Keluarga dan sekolah memiliki peran penting dalam menciptakan ruang aman bagi remaja. Mendengarkan tanpa menghakimi, memberi dukungan emosional, serta peka terhadap perubahan perilaku adalah langkah awal yang sangat berarti.
Kematian bukanlah solusi dari masalah apa pun. Yang dibutuhkan remaja adalah pertolongan, pemahaman, dan pendampingan agar mereka tahu bahwa setiap kesulitan selalu bisa dicari jalan keluarnya.
Baca Juga : Tragedi Remaja Bandung: Saat Nyawa Terasa Murah dan Kematian Seolah Mudah Dibeli




