Suara Online – Di tengah kehidupan sosial yang semakin terbuka, banyak orang tanpa sadar menggantungkan rasa berharga pada penilaian orang lain. Jumlah likes, komentar, atau pujian sering dijadikan tolok ukur keberhasilan dan kebahagiaan.
Padahal, ketika nilai diri sepenuhnya ditentukan oleh validasi sosial, seseorang rentan merasa kosong saat pengakuan itu tidak datang.
Validasi diri berarti kemampuan untuk mengakui perasaan, usaha, dan pencapaian tanpa harus menunggu persetujuan orang lain.
Saat seseorang mampu berkata, “aku sudah cukup berusaha,” maka ketenangan batin tidak lagi mudah goyah oleh pendapat eksternal. Inilah fondasi penting bagi kesehatan mental yang stabil.
Ketergantungan pada validasi sosial membuat seseorang hidup dalam tekanan ekspektasi. Keputusan sering diambil bukan berdasarkan kebutuhan diri, melainkan demi diterima lingkungan.
Akibatnya, kelelahan emosional muncul karena terus berusaha memenuhi standar yang belum tentu sejalan dengan nilai pribadi.
Sebaliknya, validasi diri memberi ruang untuk mengenal batas dan keinginan sendiri. Kesalahan tidak lagi dianggap kegagalan total, melainkan bagian dari proses belajar. Pujian menjadi bonus, bukan kebutuhan utama untuk merasa layak.
Bukan berarti validasi dari orang lain tidak penting sama sekali. Dukungan sosial tetap berharga, namun tidak seharusnya menjadi satu-satunya sumber rasa percaya diri. Ketika validasi diri sudah kuat, kritik tidak mudah melukai, dan pujian tidak membuat terlena.
Pada akhirnya, hubungan yang sehat dengan diri sendiri adalah kunci. Saat seseorang mampu menghargai dirinya tanpa sorotan sosial, ia akan menjalani hidup dengan lebih tenang, jujur, dan bebas dari rasa takut tidak diakui.
Baca Juga : Emosi yang Dipendam Diam-Diam Dapat Menguras Energi Hidup Tanpa Disadari




