Suaraonline.com – Kondisi overstimulated brain yaitu keadaan ketika otak kewalahan karena terlalu banyak informasi dan distraksi dalam waktu bersamaan.
Bangun tidur langsung membuka ponsel, berpindah dari satu aplikasi ke aplikasi lain, lalu bekerja sambil mendengarkan video di latar belakang sudah menjadi kebiasaan banyak orang. Tanpa disadari, otak terus menerima rangsangan tanpa jeda.
Cara Mengobati Overstimulated Brain di Era Digital
Overstimulated brain terjadi ketika sistem saraf terus-menerus aktif akibat paparan notifikasi, media sosial, berita cepat, dan multitasking digital. Otak manusia sebenarnya tidak dirancang untuk memproses begitu banyak input sekaligus.
Saat rangsangan datang bertubi-tubi, kadar hormon stres meningkat dan fokus menjadi terpecah. Akibatnya, Kamu merasa lelah meskipun tidak melakukan aktivitas fisik berat.
Tandanya sering terlihat dalam bentuk sulit konsentrasi, mudah terdistraksi, cepat bosan, dan muncul dorongan untuk terus memeriksa ponsel. Bahkan ketika sedang beristirahat, pikiran tetap terasa penuh.
Pola tidur bisa terganggu karena otak kesulitan memasuki fase relaksasi. Jika berlangsung lama, overstimulated brain dapat memicu anxiety dan memperparah chronic stress.
Fenomena ini semakin kuat di era digital yang menuntut respons cepat. Algoritma media sosial dirancang untuk mempertahankan perhatian selama mungkin.
Setiap notifikasi memberikan sensasi kecil yang memicu dopamin, membuat Kamu ingin terus kembali. Tanpa kontrol, siklus ini membentuk kebiasaan yang melelahkan secara mental.
Cara mengatasinya bukan dengan sepenuhnya meninggalkan teknologi, melainkan mengatur batas penggunaan. Mulailah dengan menciptakan waktu tanpa layar, terutama satu jam sebelum tidur dan setelah bangun pagi.
Mengaktifkan mode senyap atau membatasi notifikasi juga membantu mengurangi lonjakan rangsangan. Otak membutuhkan momen tenang untuk memproses informasi dengan sehat.
Aktivitas sederhana seperti berjalan kaki tanpa ponsel, membaca buku fisik, atau melakukan teknik pernapasan dapat membantu sistem saraf kembali stabil.
Rutinitas tidur yang konsisten juga berperan penting dalam memulihkan fungsi kognitif. Memberi ruang bagi kebosanan sesekali justru membantu meningkatkan kreativitas dan fokus.
Overstimulated brain bukan tanda kurang disiplin, melainkan respons alami terhadap lingkungan digital yang intens.
Dengan kesadaran dan pengaturan batas yang konsisten, Kamu dapat mengembalikan keseimbangan antara produktivitas dan kesehatan mental tanpa harus sepenuhnya terlepas dari teknologi.
Baca Juga: Rumination Thinking Pattern: Gen Z Sering Banget Mengalaminya!
Editor: Annisa Adelina Sumadillah.




