Suaraonline.com – Banyak orang masih menganggap anxiety attack dan panic attack itu sama. Padahal keduanya berbeda, baik dari cara muncul, intensitas, maupun dampaknya pada tubuh dan pikiran.
Di tengah tekanan kerja, tuntutan produktivitas, dan kebiasaan overthinking yang makin sering terjadi, memahami perbedaan keduanya jadi penting supaya kamu tidak salah mengenali kondisi diri sendiri.
Perbedaan Anxiety Attack dan Panic Attack
Anxiety attack biasanya muncul karena pemicu yang jelas. Misalnya tekanan deadline, konflik di tempat kerja, masalah keuangan, atau ketakutan akan penilaian orang lain.
Gejalanya berkembang perlahan. Kamu mungkin merasa gelisah, sulit fokus, otot tegang, mudah marah, dan pikiran terasa penuh. Serangan kecemasan ini bisa berlangsung cukup lama, bahkan berjam-jam, terutama jika sumber stresnya tidak selesai.
Sebaliknya, panic attack sering datang tiba-tiba tanpa peringatan. Gejalanya jauh lebih intens dan terasa fisik. Jantung berdebar sangat cepat, napas pendek, dada terasa sesak, tubuh gemetar, bahkan muncul rasa seperti akan kehilangan kendali atau meninggal. Biasanya puncaknya terjadi dalam beberapa menit, lalu perlahan mereda meskipun meninggalkan rasa takut.
Dari sisi penanganan, anxiety attack lebih efektif diatasi dengan mengelola pemicu stres. Mengatur pola kerja, istirahat cukup, membatasi paparan media sosial, serta latihan relaksasi seperti pernapasan dalam bisa membantu.
Sedangkan saat panic attack terjadi, fokus utama adalah menenangkan tubuh. Teknik grounding seperti menyebutkan lima benda yang terlihat, empat hal yang bisa disentuh, atau mengatur napas perlahan sangat dianjurkan.
Jika serangan terjadi berulang dan mengganggu aktivitas harian, berkonsultasi dengan profesional kesehatan mental adalah langkah bijak. Kamu tidak perlu menunggu sampai kondisinya parah.
Mengenali perbedaan antara anxiety attack dan panic attack membantu Kamu lebih peka terhadap sinyal tubuh sendiri, sehingga penanganan bisa dilakukan lebih cepat dan tepat sebelum dampaknya semakin besar.
Baca Juga: Perfectionism Syndrome yang Diam-Diam Melelahkan
Editor: Annisa Adelina Sumadillah.




