Suaraonline.com – Bayangin kamu lagi nyusun puzzle. Gambarnya sudah hampir jadi, tapi karena ada satu potongan yang belum pas, kamu merasa semuanya gagal. Kamu nggak mau menunjukkan hasilnya karena merasa belum sempurna. Padahal orang lain sudah melihatnya sebagai sesuatu yang bagus.
Itulah gambaran sederhana dari perfectionism syndrome, kondisi ketika keinginan untuk menjadi sempurna berubah menjadi tekanan yang terus menguras energi.
Kelelahan Akibat Perfectionism Syndrome
Tidak ada yang salah dengan ingin menjadi lebih baik. Masalahnya muncul ketika “lebih baik” berubah menjadi “harus tanpa cela.” Di titik ini, kamu mulai bekerja bukan karena ingin berkembang, tapi karena takut salah. Takut dinilai kurang. Takut dianggap tidak cukup.
Perfectionism sering terlihat seperti kualitas positif. Kamu disiplin, detail, dan bertanggung jawab. Namun di balik itu ada suara kecil yang tidak pernah puas. Setelah menyelesaikan tugas, bukannya lega, kamu malah fokus pada kekurangan kecil. Pikiran seperti “harusnya bisa lebih bagus” terus berulang.
Banyak orang dengan perfectionism syndrome juga sulit memulai sesuatu. Bukan karena malas, tapi karena takut hasilnya tidak sesuai standar tinggi di kepala. Akhirnya muncul penundaan, overthinking, bahkan kelelahan sebelum benar-benar mulai.
Akar dari pola ini sering terbentuk sejak lama. Bisa karena tumbuh di lingkungan yang menilai berdasarkan prestasi, terbiasa mendapat kritik lebih sering daripada apresiasi, atau belajar bahwa penerimaan datang hanya saat berhasil. Tanpa sadar, kamu menyamakan nilai diri dengan hasil yang sempurna.
Di era media sosial, tekanan ini makin kuat. Kamu melihat pencapaian orang lain yang terlihat rapi dan sukses. Tanpa sadar, kamu membandingkan proses berantakanmu dengan hasil akhir mereka. Standar dalam diri pun makin naik.
Dampaknya perlahan terasa. Tubuh mudah tegang, pikiran sulit istirahat, dan rasa puas hampir tidak pernah muncul. Bahkan ketika berhasil, kamu cepat menganggapnya biasa saja. Dalam hubungan, kamu mungkin juga sulit menerima kesalahan orang lain karena standar tinggi yang sama ikut diterapkan.
Mengurangi perfectionism bukan berarti menurunkan kualitas hidup. Ini tentang memberi ruang pada diri sendiri untuk menjadi manusia. Kamu bisa mulai dengan menetapkan batas realistis sebelum mengerjakan sesuatu. Tentukan kapan cukup itu cukup.
Latih juga dialog internal yang lebih lembut. Saat pikiran berkata, “Ini belum sempurna,” coba ubah menjadi, “Ini sudah progres.” Kesempurnaan bukan syarat untuk dihargai.
Karena sering kali, yang membuat kamu lelah bukan pekerjaannya, melainkan tekanan untuk selalu terlihat tanpa cela. Padahal hidup tidak meminta sempurna. Hidup hanya meminta kamu terus bertumbuh, sedikit demi sedikit.
Baca Juga: Existential Crisis: Ketika Hidup Terasa Hampa
Editor: Annisa Adelina Sumadillah




