Suara Online – Kabar duka datang dari Sumatera Utara. Seorang pelajar SMA bernama Arjuna meninggal dunia pada Jumat (06/02/2026) setelah berjuang melawan tumor otak yang dideritanya. Sebelum mengembuskan napas terakhir, ia dikabarkan sempat ditolak oleh dua rumah sakit saat mencari perawatan.
Selama sakit, Arjuna disebut kerap mengikat kepalanya dengan dasi sekolah untuk menahan rasa nyeri yang begitu hebat.
Gambaran itu sederhana, tetapi menyayat hati. Seorang remaja yang seharusnya fokus belajar dan mempersiapkan masa depan, justru harus bertarung dengan penyakit serius dalam kondisi yang tidak mudah.
Peristiwa yang terjadi pada awal Februari itu bukan hanya menyisakan duka bagi keluarga, tetapi juga memunculkan pertanyaan besar di tengah masyarakat.
Bagaimana sebenarnya wajah pelayanan kesehatan kita hari ini? Mengapa dalam situasi darurat, persoalan administrasi dan biaya kerap terasa lebih dulu hadir dibanding pertolongan?
Rumah sakit memang memiliki prosedur. Ada sistem rujukan, keterbatasan kamar, serta regulasi pembiayaan yang harus dipatuhi.
Tidak semua penolakan berarti tidak peduli. Namun dalam kondisi genting, publik berharap satu hal yang sederhana: nyawa didahulukan.
Ketika keluarga pasien yang sedang panik justru dihadapkan pada pertanyaan mengenai jaminan pembayaran atau kelengkapan berkas, wajar jika muncul persepsi bahwa isi dompet memengaruhi cepat atau lambatnya pelayanan. Persepsi ini yang perlahan mengikis kepercayaan masyarakat terhadap sistem kesehatan.
Di sisi lain, fasilitas kesehatan memang membutuhkan biaya besar untuk beroperasi. Tenaga medis harus digaji, alat kesehatan dirawat, obat-obatan tersedia, dan layanan berjalan tanpa henti. Sistem kesehatan tidak bisa sepenuhnya dilepaskan dari aspek finansial.
Namun masalah muncul ketika logika administrasi terasa lebih dominan daripada empati. Saat pasien datang dalam kondisi kritis, keluarga berharap pertanyaan pertama yang muncul adalah tentang tindakan medis yang bisa segera dilakukan, bukan soal kemampuan membayar.
Kisah Arjuna menjadi cerminan keresahan yang lebih luas. Banyak masyarakat mulai bertanya apakah akses kesehatan benar-benar setara bagi semua orang.
Apakah mereka yang tidak memiliki kekuatan finansial harus menghadapi proses yang lebih sulit untuk mendapatkan pertolongan?
Tenaga medis tentu tidak bisa digeneralisasi. Banyak dokter dan perawat bekerja dengan penuh dedikasi dan tekanan tinggi.
Namun sistem yang kaku dan birokrasi panjang bisa membuat pelayanan terasa jauh dari nilai kemanusiaan yang diharapkan.
Potret rumah sakit di Indonesia hari ini berada di titik refleksi. Fasilitas mungkin semakin modern, tetapi kehangatan pelayanan dan keberpihakan pada nyawa masih menjadi perdebatan.
Karena pada akhirnya, rumah sakit bukan sekadar bangunan dengan teknologi canggih. Ia adalah tempat orang menggantungkan harapan terakhirnya.
Dan harapan itu seharusnya tidak ditentukan oleh tebal atau tipisnya dompet, melainkan oleh komitmen untuk menyelamatkan kehidupan.
Baca Juga : Ini Alasan Indonesia Tidak Akan Pernah Jadi Negara Maju




