Pernah nggak, niatnya cuma beli kopi sebelum berangkat kerja, tapi pulangnya malah sadar saldo rekening berkurang lebih banyak dari yang diperkirakan? Padahal rasanya cuma beberapa kali scan QRIS.
Kalau dipikir-pikir, memang aneh. Mengeluarkan uang tunai Rp100 ribu kadang terasa berat, tapi kalau tinggal scan barcode, rasanya seperti “nggak kerasa”. Lalu muncul pertanyaan, jangan-jangan pembayaran digital memang bikin orang lebih boros?
Jawabannya ternyata bukan karena QRIS-nya.
Semua Berawal dari Cara Otak Melihat Uang
Coba bayangkan kamu sedang membeli makan siang seharga Rp50 ribu.
Kalau membayar tunai, kamu harus membuka dompet, mengambil uang, lalu melihat uang itu berpindah ke tangan kasir. Ada rasa “sayang” karena uang yang tadi ada di dompet sekarang benar-benar berkurang.
Berbeda saat menggunakan QRIS. Tinggal buka aplikasi, scan, masukkan PIN, selesai. Prosesnya cepat, bahkan kadang hanya beberapa detik.
Nah, perbedaan sederhana inilah yang membuat pengalaman membayar terasa berbeda.
Dalam dunia ekonomi perilaku, ada istilah pain of paying. Istilah ini menjelaskan bahwa seseorang biasanya akan lebih merasakan “kehilangan” saat mengeluarkan uang secara fisik dibanding saat membayar secara digital. Konsep tersebut diperkenalkan oleh Drazen Prelec dan George Loewenstein, yang menjelaskan bahwa metode pembayaran dapat memengaruhi cara seseorang merasakan pengeluaran.
QRIS Memang Dibuat Supaya Praktis
Kalau dipikir lagi, memang itulah tujuan QRIS dibuat.
Tidak perlu membawa uang tunai, tidak perlu mencari uang pas, dan tidak perlu menunggu uang kembalian. Tinggal scan, transaksi selesai.
Menurut Bank Indonesia, QRIS merupakan standar pembayaran nasional yang dirancang agar transaksi menjadi lebih mudah, cepat, aman, dan efisien. Tidak heran kalau sekarang hampir semua tempat, mulai dari pedagang kaki lima sampai pusat perbelanjaan, sudah menyediakan QRIS.
Semakin praktis sebuah transaksi, semakin nyaman pula orang menggunakannya.
Lalu Kenapa Pengeluaran Terasa Lebih Cepat?
Masalahnya bukan karena uangnya hilang lebih banyak, melainkan karena proses mengeluarkannya terasa lebih ringan.
Saat pembayaran hanya membutuhkan beberapa detik, kita sering kali tidak benar-benar menyadari berapa kali sudah bertransaksi dalam sehari.
Belum lagi kalau ada promo, cashback, atau potongan harga. Awalnya mungkin cuma ingin membeli satu barang, tetapi akhirnya tergoda membeli yang lain karena merasa sedang “hemat”. Padahal, tetap saja ada uang yang keluar.
Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa kemudahan pembayaran digital dapat mendorong pembelian impulsif pada sebagian orang, terutama jika belum memiliki kebiasaan mengatur keuangan dengan baik.
Berarti Harus Balik Pakai Uang Tunai?
Belum tentu.
QRIS tetap menjadi salah satu inovasi yang sangat membantu. Riwayat transaksi tercatat otomatis, pembayaran lebih aman, dan tidak perlu repot membawa banyak uang tunai.
Yang perlu dijaga justru bukan cara membayarnya, tetapi kebiasaan saat berbelanja.
Sesekali coba berhenti beberapa detik sebelum menekan tombol bayar. Tanyakan ke diri sendiri, “Ini memang lagi dibutuhkan atau cuma karena lagi tergoda promo?”
Pertanyaan sederhana seperti itu kadang justru bisa menyelamatkan isi rekening.
Pada Akhirnya, Bukan QRIS yang Menentukan
Menyalahkan QRIS karena merasa lebih boros rasanya kurang tepat. Teknologi hanya mempermudah cara kita bertransaksi. Keputusan untuk membeli sesuatu tetap ada di tangan kita.
Kalau sudah terbiasa membedakan mana kebutuhan dan mana keinginan, pembayaran digital justru bisa menjadi alat yang sangat membantu. Sebaliknya, kalau masih sering belanja karena impulsif, bukan cuma QRIS, uang tunai pun bisa cepat habis.
Jadi, bukan soal memilih bayar pakai uang tunai atau QRIS. Yang lebih penting adalah tetap sadar setiap kali mengeluarkan uang. Karena sekecil apa pun nominalnya, kalau dilakukan berkali-kali, tetap saja akan terasa saat melihat saldo di akhir bulan.
Baca Juga: Soft Saving Kian Populer, Begini Cara Gen Z Kelola Uang









