Suaraonline.com — Di usia dua puluhan hingga awal tiga puluhan, banyak anak muda merasa hidupnya seperti lomba yang tertinggal beberapa langkah. Media sosial penuh pencapaian orang lain, sementara diri sendiri masih berkutat pada pertanyaan besar tentang arah hidup.
Fase ini kerap disebut sebagai quarter life crisis, kondisi emosional yang diam-diam memengaruhi banyak aspek kehidupan, termasuk relasi sosial.
Faktor Quarter Life Crisis Mempengaruhi Relasi Sosial
Quarter life crisis sangat bisa berdampak pada relasi sosial, terjadi lantaran seseorang jadi lebih sensitif dan mudah membandingkan diri dengan orang lain. Pertemanan yang dulu terasa hangat bisa berubah canggung karena muncul rasa minder, iri, atau takut dianggap gagal. Dalam kondisi ini, seseorang juga cenderung menarik diri karena merasa tidak cukup “berhasil” untuk hadir di tengah lingkaran sosialnya.
Dalam hubungan pertemanan, ini dapat memicu jarak emosional. Obrolan ringan berubah terasa berat karena topik karier, pernikahan, atau pencapaian hidup justru menjadi sumber kecemasan. Tak jarang, seseorang memilih menghindar dari pertemuan sosial demi menjaga perasaan sendiri, meski akhirnya merasa semakin kesepian.
Relasi keluarga pun ikut terdampak. Tekanan ekspektasi dari orang tua atau kerabat sering memperparah quarter life crisis, sehingga komunikasi menjadi defensif dan mudah tersulut emosi. Hal-hal kecil bisa memicu konflik karena individu sedang berada dalam fase rapuh dan penuh kebingungan.
Dalam hubungan romantis, quarter life crisis bisa menghadirkan ketidakpastian. Seseorang mungkin ragu berkomitmen karena merasa belum “siap” secara mental, finansial, atau emosional. Sebaliknya, ada pula yang justru memaksakan hubungan demi rasa aman, meski di dalamnya menyimpan kegelisahan.
Meski berdampak nyata pada relasi sosial, quarter life crisis bukan akhir dari segalanya. Fase ini bisa menjadi momentum untuk mengenal diri lebih dalam dan membangun hubungan yang lebih jujur. Dengan komunikasi terbuka dan empati, relasi sosial justru dapat tumbuh lebih sehat setelah badai quarter life crisis terlewati.
Baca Juga: Overthinking: Penyebab dan Cara Menghentikannya
Editor: Annisa Adelina Sumadillah.




