Suaraonline.com – Revenge bedtime procrastination merupakan kondisi ketika kamu malah memilih untuk menunda tidur, padahal tubuh terasa lelah setelah seharian bekerja.
Hal ini terjadi lantaran kamu merasa “dendam” akan di siang hari yang terasa seperti lomba tanpa garis akhir. Target kerja, notifikasi tanpa henti, tekanan sosial, dan tuntutan untuk selalu responsif membuat waktu terasa bukan milik sendiri.
Revenge Bedtime Procrastination dan Ilusi Waktu Pribadi
Revenge bedtime procrastination adalah kebiasaan menunda tidur demi mendapatkan kembali rasa kontrol atas waktu pribadi. Bukan karena tidak mengantuk, melainkan karena ada perasaan bahwa sepanjang hari hidup berjalan atas tuntutan orang lain. Malam menjadi ruang sunyi yang terasa aman. Di sana, kamu bisa memilih sendiri mau melakukan apa, meski hanya scroll media sosial atau menonton video singkat.
Fenomena ini makin sering terjadi di era digital. Paparan konten tanpa batas membuat otak sulit berhenti. Algoritma dirancang agar kamu terus bertahan. Tanpa sadar, satu video berubah menjadi sepuluh, satu menit menjadi satu jam. Padahal alarm pagi sudah menunggu.
Secara psikologis, revenge bedtime procrastination sering berkaitan dengan stres dan kurangnya kontrol diri di siang hari. Ketika kebutuhan emosional tidak terpenuhi, malam dijadikan kompensasi. Namun kompensasi ini bersifat semu. Waktu pribadi memang terasa ada, tetapi kualitas istirahat justru menurun.
Dampaknya tidak sepele. Kurang tidur memengaruhi konsentrasi, kestabilan emosi, hingga sistem imun. Kamu mungkin merasa “menang” karena berhasil punya waktu sendiri, tetapi keesokan harinya tubuh membayar mahal. Produktivitas turun, mood lebih mudah berubah, dan lingkaran stres semakin kuat. Ironisnya, semakin lelah kamu di siang hari, semakin besar dorongan untuk mengulang pola yang sama di malam berikutnya.
Revenge bedtime procrastination juga bisa menjadi sinyal bahwa keseharian terasa terlalu penuh tekanan. Jika setiap malam dipakai untuk “balas dendam”, mungkin ada kebutuhan yang tidak terpenuhi di siang hari. Bisa jadi kurangnya batasan kerja, terlalu banyak tuntutan sosial, atau ekspektasi diri yang terlalu tinggi.
Mengatasinya bukan sekadar memaksa diri tidur lebih cepat. Yang lebih penting adalah mengembalikan rasa kontrol di siang hari. Membuat batas waktu kerja yang jelas, mengurangi paparan layar sebelum tidur, dan menyediakan waktu kecil untuk diri sendiri sebelum malam tiba bisa membantu memutus siklus ini.
Kamu tetap berhak atas waktu pribadi. Namun tubuh juga berhak atas istirahat yang cukup. Malam seharusnya menjadi ruang pemulihan, bukan ajang pembalasan.
Pada akhirnya, revenge bedtime procrastination bukan tentang malas tidur. Ini tentang kebutuhan untuk merasa hidup berjalan sesuai pilihan sendiri. Ketika kebutuhan itu dipenuhi secara lebih sehat di siang hari, keinginan untuk “balas dendam” pada malam hari perlahan akan berkurang.
Baca Juga: Brain Fog: Penyebab dan Cara Mengatasinya
Editor: Annisa Adelina Sumadillah.




