Suaraonline.com – Setiap kali sawit disebut, yang pertama kali muncul adalah angka. Angka devisa, angka ekspor, angka kontribusi terhadap PDB. Sawit dielu-elukan sebagai pahlawan ekonomi nasional.
Di banyak wilayah, perluasan kebun sawit tidak sekadar mengubah lanskap, tetapi juga mengubah cara hidup. Hutan yang dulu menjadi ruang hidup bersama berganti menjadi barisan tanaman seragam. Sungai yang dulu menjadi sumber air bersih berubah warna. Namun ketika keluhan muncul, jawabannya sering kali normatif: pembangunan memang butuh pengorbanan.
Lingkungan bukan entitas pasif yang bisa bernegosiasi. Ia punya batas daya dukung. Ketika hutan ditebang tanpa kendali, risiko banjir dan longsor meningkat. Ketika lahan gambut dikeringkan, ancaman kebakaran membesar. Namun kerusakan itu kerap dianggap sebagai biaya sampingan, bukan sebagai tanda ada yang keliru dalam cara kita bertumbuh.
Masalahnya bukan pada keberadaan sawit semata. Masalahnya ada pada paradigma yang menempatkan pertumbuhan ekonomi di atas segalanya, sementara keberlanjutan diposisikan sebagai urusan sekunder. Dalam logika ini, selama devisa mengalir, lingkungan diminta beradaptasi. Padahal, justru ekonomilah yang semestinya menyesuaikan diri pada batas ekologis.
Kritik terhadap sawit sering dianggap anti-pembangunan. Padahal yang dipersoalkan adalah arah pembangunan itu sendiri. Apakah pertumbuhan harus selalu identik dengan ekspansi lahan? Apakah kesejahteraan harus dibayar dengan degradasi jangka panjang? Jika keuntungan dinikmati hari ini, siapa yang menanggung biayanya esok?
Kita kerap lupa bahwa ekonomi dan ekologi bukan dua kutub yang harus saling mengalahkan. Tanpa lingkungan yang sehat, produktivitas jangka panjang juga terancam. Tanah yang rusak, air yang tercemar, dan iklim yang tak menentu pada akhirnya akan kembali menghantam sektor pertanian itu sendiri.
Sawit boleh saja menjadi pahlawan devisa. Namun pahlawan sejati semestinya tidak meninggalkan luka di medan yang ia lewati. Jika lingkungan terus-menerus diminta menyesuaikan, mungkin yang perlu ditinjau ulang bukan alamnya, melainkan cara kita mendefinisikan keberhasilan pembangunan.
Baca Juga: Sawit Tak Pernah Salah, Asal yang Terdampak Tak Bersuara
Editor: Annisa Adelina Sumadillah.




