Suara Online
  • Beranda
  • Bisnis
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Gaya Hidup
  • Teknologi
Subscribe
Suara OnlineSuara Online
Aa
Search
  • Pages
    • Home
    • Blog Index
    • Contact Us
    • Search Page
    • 404 Page
  • Categories
  • Personalized
    • My Saves
    • My Feed
    • My Interests
    • History
Follow US
Sawit Pahlawan Devisa, Lingkungan Silakan Menyesuaikan

Beranda – sawit – Sawit Pahlawan Devisa, Lingkungan Silakan Menyesuaikan

ArtikelBeritaopini

Sawit Pahlawan Devisa, Lingkungan Silakan Menyesuaikan

Annisa Adelina
Annisa Adelina
Share
SHARE

Suaraonline.com – Setiap kali sawit disebut, yang pertama kali muncul adalah angka. Angka devisa, angka ekspor, angka kontribusi terhadap PDB. Sawit dielu-elukan sebagai pahlawan ekonomi nasional.

Di banyak wilayah, perluasan kebun sawit tidak sekadar mengubah lanskap, tetapi juga mengubah cara hidup. Hutan yang dulu menjadi ruang hidup bersama berganti menjadi barisan tanaman seragam. Sungai yang dulu menjadi sumber air bersih berubah warna. Namun ketika keluhan muncul, jawabannya sering kali normatif: pembangunan memang butuh pengorbanan.

Lingkungan bukan entitas pasif yang bisa bernegosiasi. Ia punya batas daya dukung. Ketika hutan ditebang tanpa kendali, risiko banjir dan longsor meningkat. Ketika lahan gambut dikeringkan, ancaman kebakaran membesar. Namun kerusakan itu kerap dianggap sebagai biaya sampingan, bukan sebagai tanda ada yang keliru dalam cara kita bertumbuh.

Masalahnya bukan pada keberadaan sawit semata. Masalahnya ada pada paradigma yang menempatkan pertumbuhan ekonomi di atas segalanya, sementara keberlanjutan diposisikan sebagai urusan sekunder. Dalam logika ini, selama devisa mengalir, lingkungan diminta beradaptasi. Padahal, justru ekonomilah yang semestinya menyesuaikan diri pada batas ekologis.

Kritik terhadap sawit sering dianggap anti-pembangunan. Padahal yang dipersoalkan adalah arah pembangunan itu sendiri. Apakah pertumbuhan harus selalu identik dengan ekspansi lahan? Apakah kesejahteraan harus dibayar dengan degradasi jangka panjang? Jika keuntungan dinikmati hari ini, siapa yang menanggung biayanya esok?

Kita kerap lupa bahwa ekonomi dan ekologi bukan dua kutub yang harus saling mengalahkan. Tanpa lingkungan yang sehat, produktivitas jangka panjang juga terancam. Tanah yang rusak, air yang tercemar, dan iklim yang tak menentu pada akhirnya akan kembali menghantam sektor pertanian itu sendiri.

Sawit boleh saja menjadi pahlawan devisa. Namun pahlawan sejati semestinya tidak meninggalkan luka di medan yang ia lewati. Jika lingkungan terus-menerus diminta menyesuaikan, mungkin yang perlu ditinjau ulang bukan alamnya, melainkan cara kita mendefinisikan keberhasilan pembangunan.

Baca Juga:  Sawit Tak Pernah Salah, Asal yang Terdampak Tak Bersuara

Editor: Annisa Adelina Sumadillah.

TAGGED: sawit, pahlawan devisa
Share This Article
Facebook Twitter Copy Link Print
Leave a comment

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified Blog

Seedbacklink

Rumah Anak Surga

Hotel Karantina Qur’an

Rental Motor Semarang

You Might Also Like

Sawit Tak Pernah Salah, Asal yang Terdampak Tak Bersuara
ArtikelBeritaopini

Sawit Tak Pernah Salah, Asal yang Terdampak Tak Bersuara

3 Min Read
Fenomena Whip Pink: Saat Hiburan Biasa Tak Lagi Cukup, Apa Penyebabnya? 
ArtikelBeritaopini

Fenomena Whip Pink: Saat Hiburan Biasa Tak Lagi Cukup, Apa Penyebabnya? 

3 Min Read
Ketika Kriminalitas Sudah Jadi Jajanan Sehari-hari
ArtikelInformasiopini

Ketika Kriminalitas Sudah Jadi Jajanan Sehari-hari

3 Min Read
Tipe-Tipe Pemimpin yang Disukai Masyarakat Indonesia
ArtikelInformasiopini

Tipe-Tipe Pemimpin yang Disukai Masyarakat Indonesia

4 Min Read
Suara Online

Suaraonline.com : The voice of netizen

  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Privacy Police
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?