Suaraonline.com – Sawit menjadi perbicangan hangat di Indoneisa sekarang, terutama karena ambisi Prabowo yang begitu menyukai sawit karena dianggap mampu meningkat perekonomian Indonesia.
Sawit banyak disebut sebagai penyumbang devisa, penyerap tenaga kerja, penopang ekonomi nasional. Di atas kertas, sawit hampir tak pernah salah. Yang salah sering kali hanya cuaca, harga global, atau “oknum” di lapangan. Namun di balik laporan pertumbuhan dan grafik ekspor, ada suara-suara pelan yang jarang sampai ke meja pengambil kebijakan.
Di desa-desa yang lahannya berubah menjadi hamparan monokultur, kesedihan tidak hadir dalam bentuk pidato. Ia hadir sebagai sungai yang tak lagi jernih, sebagai tanah yang tak lagi subur, sebagai udara yang sesak ketika musim pembakaran tiba. Bagi masyarakat yang hidup berdampingan dengan hutan, perubahan itu bukan sekadar alih fungsi lahan. Itu adalah hilangnya ruang hidup.
Petani kecil yang menggantungkan hidup pada ragam tanaman kini terdesak oleh sistem yang menuntut satu komoditas. Ketika konflik lahan terjadi, yang kuat berbicara dengan sertifikat dan izin, yang lemah berbicara dengan ingatan tentang tanah warisan.
Sawit memang memberi kerja, tetapi tidak semua kerja memberi rasa aman. Banyak warga menjadi buruh di tanah yang dulu mereka miliki. Upah datang setiap bulan, tetapi kemandirian pelan-pelan hilang. Ketergantungan menggantikan kedaulatan.
Ironisnya, penderitaan ekologis sering dianggap sebagai harga yang wajar demi pembangunan. Ketika banjir datang lebih sering, ketika satwa kehilangan habitatnya, ketika suhu terasa semakin panas, semua itu disebut konsekuensi, bukan kesalahan. Seolah-olah kerusakan lingkungan adalah efek samping yang tak terhindarkan.
Yang paling menyedihkan bukan hanya tentang pohon yang tumbang atau hutan yang hilang. Yang paling menyedihkan adalah ketika masyarakat terdampak merasa suaranya tak cukup kuat untuk melawan narasi besar tentang pertumbuhan ekonomi. Ketika mereka berbicara, mereka dianggap menghambat investasi. Ketika mereka diam, pembangunan terus berjalan.
Sawit tak pernah salah, selama yang terdampak tak bersuara. Namun sejarah selalu mencatat: kesunyian bukan berarti keadilan telah tercapai. Ia hanya menunda gema yang suatu hari bisa menjadi jauh lebih keras.
Baca Juga: Fenomena Whip Pink: Saat Hiburan Biasa Tak Lagi Cukup, Apa Penyebabnya?
Editor: Annisa Adelina Sumadillah.




