Suara Online
  • Beranda
  • Bisnis
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Gaya Hidup
  • Teknologi
Subscribe
Suara OnlineSuara Online
Aa
Search
  • Pages
    • Home
    • Blog Index
    • Contact Us
    • Search Page
    • 404 Page
  • Categories
  • Personalized
    • My Saves
    • My Feed
    • My Interests
    • History
Follow US
Sawit Tak Pernah Salah, Asal yang Terdampak Tak Bersuara

Beranda – opinisawit – Sawit Tak Pernah Salah, Asal yang Terdampak Tak Bersuara

ArtikelBeritaopini

Sawit Tak Pernah Salah, Asal yang Terdampak Tak Bersuara

Annisa Adelina
Annisa Adelina
Share
SHARE

Suaraonline.com – Sawit menjadi perbicangan hangat di Indoneisa sekarang, terutama karena ambisi Prabowo yang begitu menyukai sawit karena dianggap mampu meningkat perekonomian Indonesia.

Sawit banyak disebut sebagai penyumbang devisa, penyerap tenaga kerja, penopang ekonomi nasional. Di atas kertas, sawit hampir tak pernah salah. Yang salah sering kali hanya cuaca, harga global, atau “oknum” di lapangan. Namun di balik laporan pertumbuhan dan grafik ekspor, ada suara-suara pelan yang jarang sampai ke meja pengambil kebijakan.

Di desa-desa yang lahannya berubah menjadi hamparan monokultur, kesedihan tidak hadir dalam bentuk pidato. Ia hadir sebagai sungai yang tak lagi jernih, sebagai tanah yang tak lagi subur, sebagai udara yang sesak ketika musim pembakaran tiba. Bagi masyarakat yang hidup berdampingan dengan hutan, perubahan itu bukan sekadar alih fungsi lahan. Itu adalah hilangnya ruang hidup.

Petani kecil yang menggantungkan hidup pada ragam tanaman kini terdesak oleh sistem yang menuntut satu komoditas. Ketika konflik lahan terjadi, yang kuat berbicara dengan sertifikat dan izin, yang lemah berbicara dengan ingatan tentang tanah warisan.

Sawit memang memberi kerja, tetapi tidak semua kerja memberi rasa aman. Banyak warga menjadi buruh di tanah yang dulu mereka miliki. Upah datang setiap bulan, tetapi kemandirian pelan-pelan hilang. Ketergantungan menggantikan kedaulatan.

Ironisnya, penderitaan ekologis sering dianggap sebagai harga yang wajar demi pembangunan. Ketika banjir datang lebih sering, ketika satwa kehilangan habitatnya, ketika suhu terasa semakin panas, semua itu disebut konsekuensi, bukan kesalahan. Seolah-olah kerusakan lingkungan adalah efek samping yang tak terhindarkan.

Yang paling menyedihkan bukan hanya tentang pohon yang tumbang atau hutan yang hilang. Yang paling menyedihkan adalah ketika masyarakat terdampak merasa suaranya tak cukup kuat untuk melawan narasi besar tentang pertumbuhan ekonomi. Ketika mereka berbicara, mereka dianggap menghambat investasi. Ketika mereka diam, pembangunan terus berjalan.

Sawit tak pernah salah, selama yang terdampak tak bersuara. Namun sejarah selalu mencatat: kesunyian bukan berarti keadilan telah tercapai. Ia hanya menunda gema yang suatu hari bisa menjadi jauh lebih keras.

Baca Juga: Fenomena Whip Pink: Saat Hiburan Biasa Tak Lagi Cukup, Apa Penyebabnya? 

Editor: Annisa Adelina Sumadillah. 

TAGGED: opinisawit, sawit
Share This Article
Facebook Twitter Copy Link Print
Leave a comment

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified Blog

Seedbacklink

Rumah Anak Surga

Hotel Karantina Qur’an

Rental Motor Semarang

You Might Also Like

Sawit Pahlawan Devisa, Lingkungan Silakan Menyesuaikan
ArtikelBeritaopini

Sawit Pahlawan Devisa, Lingkungan Silakan Menyesuaikan

2 Min Read
Fenomena Whip Pink: Saat Hiburan Biasa Tak Lagi Cukup, Apa Penyebabnya? 
ArtikelBeritaopini

Fenomena Whip Pink: Saat Hiburan Biasa Tak Lagi Cukup, Apa Penyebabnya? 

3 Min Read
Ketika Kriminalitas Sudah Jadi Jajanan Sehari-hari
ArtikelInformasiopini

Ketika Kriminalitas Sudah Jadi Jajanan Sehari-hari

3 Min Read
Tipe-Tipe Pemimpin yang Disukai Masyarakat Indonesia
ArtikelInformasiopini

Tipe-Tipe Pemimpin yang Disukai Masyarakat Indonesia

4 Min Read
Suara Online

Suaraonline.com : The voice of netizen

  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Privacy Police
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?