Suara Online – Di era serba notifikasi, menenangkan diri sering kali disamakan dengan scrolling media sosial atau menonton video tanpa henti.
Padahal, distraksi digital justru kerap membuat pikiran semakin penuh dan lelah tanpa disadari.
Di sinilah pentingnya mempelajari seni menenangkan diri tanpa distraksi digital agar kesehatan mental tetap terjaga.
Menenangkan diri tanpa distraksi digital berarti memberi ruang bagi pikiran untuk benar-benar beristirahat.
Saat layar dimatikan, otak memiliki kesempatan memproses emosi yang tertunda. Banyak orang merasa gelisah ketika jauh dari gawai, bukan karena butuh hiburan, melainkan karena terbiasa menghindari keheningan.
Salah satu cara sederhana adalah melatih kesadaran penuh terhadap aktivitas kecil. Menyeduh teh, merapikan kamar, atau berjalan santai tanpa earphone bisa menjadi latihan hadir sepenuhnya di momen saat ini.
Aktivitas ini membantu menurunkan ketegangan tanpa perlu stimulus berlebihan.
Selain itu, menulis refleksi singkat juga efektif sebagai bagian dari seni menenangkan diri tanpa distraksi digital.
Dengan menuangkan pikiran ke atas kertas, emosi yang semula berputar di kepala menjadi lebih terstruktur.
Proses ini membantu mengenali apa yang sebenarnya dirasakan, bukan sekadar melupakannya lewat layar.
Mengatur waktu khusus bebas gawai juga penting. Tidak harus lama, cukup 15–30 menit sehari untuk benar-benar terhubung dengan diri sendiri.
Konsistensi jauh lebih berpengaruh dibanding durasi yang panjang tetapi jarang dilakukan.
Pada akhirnya, seni menenangkan diri tanpa distraksi digital bukan tentang menolak teknologi, melainkan mengembalikan kendali atas perhatian kita.
Ketika pikiran diberi ruang tanpa gangguan, ketenangan menjadi sesuatu yang alami, bukan lagi hal yang sulit dicari.
Baca Juga : Ketika Pikiran Lebih Lelah daripada Tubuh: Memahami Kelelahan Mental yang Sering Tidak Disadari




