Suaraonline.com – Dalam hubungan pertemanan, pasti akan selalu ada yang namanya masalah atau konflik rumit yang akan dihadapi. Dalam hal ini, pasti juga akan muncul seseorang yang menganggap bahwa dirinya adalah korban dan suka berpura-pura. Sifat inilah yang disebut dengan playing victim.
Sifat playing victim bisa muncul pada siapa saja dan jika ada yang berteman dengan orang yang memiliki sifat ini maka akan menjadi sebuah tantangan tersendiri. Ada banyak sekali alasan mereka melakukan playing victim seperti, ingin mendapatkan perhatian, berharap semua orang memaklumi tindakannya, dan banyak lagi.
Mengapa sifat playing victim itu berbahaya? Bagaimana ciri-cirinya? Yuk simak bersama!
Ciri-ciri Sifat Playing Victim
Sifat playing victim yang dimainkan oleh seseorang sehingga tampak menjadi korban bisa sangat meresahkan dan merugikan kita jika kita sendiri tidak dapat mengontrolnya secara bijak. Berikut ini ciri-ciri sifat playing victim pada seseorang:
1. Suka Menyalahkan Orang Lain
Seseorang yang sering menganggap dirinya adalah korban suka sekali menyalahkan orang lain. Ia meyakini jika kegagalan yang terjadi adalah karena orang lain yang ikut campur dengan urusannya dan akibatnya, ia sering mengkambing hitamkan orang lain agar dirinya bisa tampak selalu benar.
Oleh karena itu, ia sering merasa bahwa hanya dirinya yang selalu benar dan gemar sekali untuk melempar segala permasalahan kepada orang lain.
2. Suka Memanfaatkan Orang Lain
Agar dirinya tidak terjebak dalam kesalahan yang ia perbuat, maka seseorang yang memiliki sifat playing victim gemar sekali memanfaatkan orang lain dan membuatnya tidak berdaya. Orang lain yang telah terjebak akan dimanfaatkan dan disalahkan.
Biasanya orang yang mudah terjebak adalah orang yang memiliki sifat baik, kepedulian tinggi, dan juga kepolosan sehingga mudah untuk dimanfaatkan. Oleh sebab itu, kita harus senantiasa bisa waspada.
3. Tidak Suka Menerima Kritik
Orang yang sering menganggap dirinya korban juga tidak suka menerima kritik. Ia merasa bahwa dirinya sendiri sudah cukup hebat sehingga tidak membutuhkan masukan dari orang lain.
Meskipun ada kritik yang membangun, tetapi seseorang yang menganggap dirinya sebagai korban akan selalu merasa jika kritik itu sebuah penindasan dan juga serangan yang dapat memicu adanya konflik.
4. Menjalani Kehidupan Seperti Drama
Ia tidak menyukai kehidupan yang monoton sehingga sering kali membuat masalah baru dan menciptakan konflik. Setelah konflik itu terjadi, ia tidak mau disalahkan dan menganggap bahwa setiap orang terlalu mendramatisir hidupnya, padahal dia sendiri adalah pelakunya.
5. Kurang Percaya Diri
Mereka yang memiliki sifat playing victim sebenarnya adalah orang yang kurang percaya diri, sehingga ia suka mencari validasi dan perhatian kepada orang lain dengan cara mencari kesalahan maupun membuat masalah yang baru.
Cara Menghadapi Orang Playing Victim
Jika memiliki teman yang suka bercerita kesedihan, jangan langsung menganggap bahwa dia ada sebagai korban. Tetap tunjukkan rasa empati kepadanya namun tidak secara berlebihan.
Cara terbaik menghadapi seseorang yang sering menganggap bahwa dirinya adalah korban dengan memahami perasaannya dari banyak sudut pandang. Jangan mudah untuk menaruh rasa kasian secara seutuhnya, karena dari rasa kasian itulah seorang playing victim berhasil memainkan perasaan seseorang.
Jangan pernah meminta maaf jika memang bukanlah kesalahan kita, tetaplah menjadi orang yang tenang dan tidak memberikan validasi berlebihan kepadanya supaya ia tidak dapat mempengaruhi kita.
Tetaplah bersikap objektif dalam memberikan penilaian. Jika dirasa sikap dan perbuatannya merugikan atau meresahkan, maka cobalah untuk mengajaknya ke psikolog agar bisa berkonsultasi dan menemukan solusi terbaik.
Itulah tadi pembahasan mengenai ciri-ciri dan juga cara menghadapi orang playing victim. Seseorang yang sering menganggap dirinya korban bukan berarti harus diserang balik, tapi tetaplah berempati namun dalam batas yang wajar.
Jangan memvalidasi keadaannya, tetapi kita bisa membantunya dengan memberikan saran atau masukan yang membangun perubahannya menjadi lebih baik.
Baca Juga: Gaya Hidup Hedonisme: Ketika Kesenangan Menjadi Hal Utama, Kenali Dampak dan Cara Mencegahnya
Penulis: Suci Wulandari




