Suaraonline.com – Di tengah konflik yang berkepanjangan di Gaza, suasana buka puasa Ramadhan 1447 Hijiriyah tetap menyimpan momen-momen hangat yang menyentuh.
Di balik reruntuhan bangunan, suara adzan Maghrib tetap berkumandang dan keluarga Palestina berkumpul untuk berbuka puasa bersama dengan iftar sederhana yang tersedia, menunjukkan keteguhan iman dan harapan di tengah situasi yang penuh tantangan.
Namun suasana humanis ini berjalan beriringan dengan realitas yang jauh dari normal. Akses media internasional ke Gaza semakin dibatasi. Organisasi seperti Foreign Press Association menuntut Israel mengakhiri larangan bagi jurnalis memasuki wilayah Gaza, memperjuangkan kebebasan pers agar dunia bisa melihat langsung apa yang terjadi di lapangan.
Pembatasan akses ini terjadi dalam latar konflik yang terus menimbulkan korban dari kalangan wartawan itu sendiri.
Laporan terbaru menunjukkan ratusan jurnalis tewas saat menjalankan tugas di Gaza pada 2025, dengan sebagian besar menjadi korban konflik tersebut sebuah indikator betapa tinggi risiko bagi insan pers yang mencoba melaporkan situasi dari dalam wilayah yang terkepung.
Situasi medis pun tidak kalah krisisnya. Beberapa organisasi medis internasional telah menghadapi tuntutan baru dari pihak berwenang Israel, termasuk kewajiban menyerahkan daftar personal secara detail, sebuah syarat yang dikhawatirkan akan memaksa mereka menghentikan operasi mereka di Gaza.
Kondisi ini memperburuk krisis kemanusiaan yang sudah berlangsung lama. Dalam perang yang telah menghancurkan sebagian besar infrastruktur di Gaza, akses terhadap makanan, air, dan layanan kesehatan menjadi semakin terbatas. Upaya internasional melalui seruan bantuan dan dukungan terus meningkat, namun tanpa akses penuh ke wilayah tersebut, bantuan sering terhambat.
Meski demikian, warga Gaza terus mencari momen kebersamaan dan ketenangan spiritual. Di beberapa kawasan, iftar bersama menjadi saat penting bagi keluarga dan tetangga untuk berbagi makanan, berbincang, dan sejenak melupakan dentuman konflik yang mengitari mereka. Suara doa dan tawa kecil anak-anak yang menunggu berbuka masih terdengar, meski latar belakangnya adalah kota-kota yang porak‑poranda dan kekurangan listrik maupun air.
Suasana buka puasa yang hangat ini menjadi simbol ketangguhan warga sipil Palestina, keteguhan yang bertahan bahkan saat tekanan keras dari luar begitu nyata. Kehidupan spiritual yang terus dijalani, seperti berbuka puasa bersama, bukan hanya sekadar rutinitas, tetapi sebuah pernyataan harapan dalam konflik panjang yang terus berlangsung.
Walaupun tantangan datang dari pelarangan akses media dan terdesaknya tenaga medis serta krisis kemanusiaan yang belum menemukan akhir, semangat Ramadhan di Gaza tetap hidup.
Cerita-cerita sederhana tentang kehangatan berbuka puasa di tengah kesulitan itulah yang memberi warna dan harapan di balik berita perang yang sering kali lebih keras terdengar daripada suara adzan di langit Gaza.
Editor: Annisa Adelina Sumadillah




