Suara Online – Di era media sosial, makna sukses sering kali terlihat seragam. Pencapaian diukur dari jabatan, penghasilan, popularitas, atau gaya hidup yang tampak di layar.
Tanpa disadari, standar ini perlahan membentuk cara pandang banyak orang terhadap keberhasilan, meski belum tentu sesuai dengan kebutuhan dan nilai pribadi masing-masing.
Sukses versi media sosial cenderung bersifat visual dan instan. Apa yang ditampilkan biasanya hanya potongan terbaik dari kehidupan seseorang, tanpa menunjukkan proses, kegagalan, atau tekanan di baliknya.
Ketika standar ini dijadikan acuan, muncul perasaan tertinggal, kurang berhasil, dan tidak cukup baik, meski sebenarnya seseorang sedang bertumbuh dengan caranya sendiri.
Berbeda dengan itu, sukses versi diri sendiri bersifat personal dan kontekstual. Sukses bisa berarti hidup lebih tenang, memiliki waktu untuk keluarga, pulih dari luka batin, atau berani memilih jalan yang lebih sesuai dengan nilai hidup. Ukuran ini tidak selalu terlihat, tetapi dampaknya terasa lebih nyata dan berkelanjutan.
Menentukan definisi sukses sendiri membutuhkan kejujuran dan keberanian. Seseorang perlu bertanya pada dirinya, apa yang benar-benar membuat hidup terasa utuh, bukan sekadar terlihat berhasil di mata orang lain.
Proses ini sering kali menuntut untuk melepaskan validasi eksternal dan fokus pada kepuasan batin.
Pada akhirnya, sukses yang membahagiakan adalah sukses yang selaras dengan diri sendiri. Ketika standar keberhasilan ditentukan dari dalam, hidup terasa lebih ringan, bermakna, dan tidak terus-menerus dibandingkan dengan apa yang ditampilkan di media sosial.
Baca Juga : Keberanian untuk Memulai Kembali dari Nol Saat Hidup Tidak Lagi Sejalan




