Suaraoline.com – Banyak orang merasa beruntung memiliki lingkar pertemanan yang tampak akrab, hangat, dan penuh tawa. Setiap berkumpul selalu ada cerita, candaan, dan rasa kebersamaan yang sekilas terlihat sehat. Namun tanpa disadari, tidak semua pertemanan yang terasa nyaman itu benar-benar membawa dampak baik bagi perkembangan diri seseorang.
Dalam realitas sehari-hari, ada pertemanan yang justru membuat seseorang berhenti bertumbuh. Bukan karena ada konflik besar, melainkan karena terlalu nyaman berada di zona yang stagnan. Perlahan, waktu habis untuk hal-hal remeh, sementara potensi diri dibiarkan mandek. Inilah bentuk toxic yang sering tidak disadari, karena dibungkus dengan suasana “baik-baik saja”.
Tanda Pertemanan Toxic Penghambat Perkembangan Diri
Pertama, pertemanan seperti ini biasanya sulit diajak membahas hal-hal serius yang berkaitan dengan masa depan. Obrolan yang muncul hampir selalu seputar hiburan, gosip ringan, atau candaan tanpa arah.
Saat topik tentang cita-cita, perbaikan diri, atau rencana hidup dibahas, suasana justru menjadi hambar dan dianggap tidak menarik. Akibatnya, perkembangan diri tidak pernah menjadi prioritas bersama.
Kedua, kesalahan yang dilakukan bukan diluruskan, tetapi malah divalidasi. Bukannya saling mengingatkan, pertemanan ini justru membuat kesalahan terasa wajar dan benar.
Tidak ada budaya saling menasihati, yang ada hanya ajakan untuk terus main-main dan menghabiskan waktu tanpa makna. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini membuat seseorang kehilangan kepekaan untuk bertumbuh.
Ketiga, dampak paling terasa muncul setelah pertemuan usai. Alih-alih merasa lebih termotivasi, seseorang justru pulang dengan perasaan hampa dan down.
Tidak ada dorongan untuk menjadi lebih baik, hanya muncul rasa puas semu bahwa hidup baik-baik saja tanpa perlu usaha lebih. Jika ini terus terjadi, pertemanan tersebut layak dievaluasi karena diam-diam menghambat perkembangan diri.
Jadi, itulah beberapa tanda jika pertemanan yang terlihat baik-baik saja padahal toxic bagi perkembangan diri, yang harus kamu waspadai. Jika itu terjadi, maka jangan ragu untuk keluar dari lingkaran pertemanan tersebut atau mungkin perlahan dikurangi intensi bertemu.
Baca Juga:Overthinking: Penyebab dan Cara Menghentikannya
Editor: Annisa Adelina Sumadillah.




