Suaraonline.com — Fenomena kegelisahan di usia 20–30 tahun semakin sering dibicarakan, terutama di tengah tekanan sosial dan ekonomi yang terus meningkat. Media sosial memperlihatkan standar hidup yang tinggi, sementara realitas tak selalu sejalan dengan harapan.
Dalam kondisi seperti ini, quarter life crisis menjadi fase yang tak terhindarkan bagi banyak anak muda dan dampaknya kerap menjalar hingga ke hal paling dasar yaitu kualitas tidur.
Tanda Quarter Life Crisis Merusak Kualitas Tidur
Quarter life crisis sering ditandai dengan pikiran yang tak berhenti bekerja, terutama saat malam hari. Ketika tubuh lelah dan ingin beristirahat, justru kecemasan tentang masa depan, karir, dan pencapaian hidup muncul tanpa jeda. Kondisi ini membuat seseorang sulit terlelap atau sering terbangun di tengah malam.
Stres emosional akibat quarter life crisis juga memicu gangguan tidur seperti insomnia ringan hingga kronis. Rasa takut tertinggal dari teman sebaya atau perasaan gagal yang berulang menciptakan lingkaran overthinking yang menguras energi mental. Akibatnya, waktu tidur berkurang, tetapi kualitas istirahat pun menurun.
Selain itu, quarter life crisis sering mendorong pola hidup tidak sehat. Begadang, scrolling media sosial berlebihan, dan konsumsi kafein di malam hari menjadi pelarian yang justru memperparah gangguan tidur. Tanpa disadari, kebiasaan ini membuat tubuh kehilangan ritme alami dan sulit masuk ke fase tidur nyenyak.
Kurang tidur dalam jangka panjang dapat memperburuk kondisi emosional. Seseorang menjadi lebih mudah marah, sensitif, dan kehilangan fokus, sehingga jadi terasa semakin berat. Ini menciptakan siklus berulang antara stres dan gangguan tidur yang saling memperkuat.
Meski demikian, fase ini tidak selalu berakhir dengan kehancuran kualitas tidur. Dengan kesadaran akan kondisi diri, membatasi distraksi digital, dan belajar menerima proses hidup yang tidak instan, kualitas tidur perlahan bisa membaik.
Menghadapi quarter life crisis dengan lebih tenang justru membantu tubuh dan pikiran menemukan kembali ritme istirahat yang sehat.
Baca Juga: Ghosting Digital vs Ghosting Nyata: Mana yang Lebih Menyakitkan?
Editor: Annisa Adelina Sumadillah.




