Suaraonline.com – Trauma dumping bukan lagi menjadi istilah baru dalam dunia psikologi. Kondisi ini merupakan keadaan dimana seseorang gemar sekali membagikan traumanya atau hal-hal pribadi secara berlebihan kepada orang lain.
Tanpa disadari, trauma dumping ini pasti pernah terjadi pada sebagian orang. Orang cenderung adu nasib bahkan tak jarang juga sampai menghakimi dan membanding-bandingkan hidupnya dengan orang lain.
Yuk simak lebih lanjut supaya tidak salah paham!
Mengenal Trauma Dumping
Dalam kehidupan setiap orang pasti memiliki masalah dan cobaannya masing-masing. Namun, tak jarang juga orang sering adu nasib dan oversharing terhadap masalahnya. Ia cenderung menceritakan segala hal pribadi secara berlebihan pada orang lain bahkan sampai hal sensitif sekalipun.
Trauma dumping merupakan kondisi seseorang yang menuangkan segala perasaan emosionalnya secara sering pada orang lain tanpa mengenal yang namanya waktu.
Orang yang memiliki sifat seperti ini cenderung kurang bisa membatasi dirinya untuk menceritakan mana yang layak diceritakan dan tidak pada orang lain. Sehingga tak jarang, lama-kelamaan sifat toxic tersebut akan muncul.
Trauma dumping juga bisa terjadi karena seseorang tidak memiliki kemampuan dalam mengontrol atau mengelola bentuk emosinya. Lebih parahnya, ia juga bisa menyebarkan cerita orang lain yang sebelumnya telah curhat padanya.
Penyebab Seseorang Melakukan Trauma Dumping
Inilah beberapa alasan yang menyebabkan seseorang biasanya melakukan trauma dumping:
1. Kurangnya Dukungan
Seseorang yang kurang dukungan dari orang-orang yang dicintai, tidak pernah didengarkan, dan semuanya dipendam sendirinya biasanya akan lebih mudah melakukan trauma dumping.
Mereka biasanya kesepian dan tidak bisa menceritakan masalahnya kepada orang yang dia percaya. Dia tidak punya tempat untuk berkeluh kesah dan rumah yang bukan berbentuk bangunan dengan aman untuk bercerita.
2. Mencari dan Haus Validasi
Seorang trauma dumper akan selalu mencari dan haus validasi kepada orang lain. Alasannya karena di masa lalu ia menjadi sosok yang diabaikan dan kurang diperhatikan sehingga ia mencarinya kembali.
3. Sulit Mengelola Emosi
Tak jarang, ketika dihadapkan dengan situasi tertentu beberapa orang kesulitan dalam mengelola emosinya sehingga ketika sedang marah bisa saja meledak-ledak. Oleh karena itu, ia meluapkan emosinya dengan cara-cara yang tidak tepat.
4. Tidak Menyadari Batasan Sosial
Bagi sebagian orang, menceritakan segala masalah kepada orang lain adalah hal yang tepat agar bisa mendapatkan solusi. Faktanya, hal tersebut juga bisa menjadi kurang baik karena seseorang jadi tidak memiliki batasan sosial atau bisa disebut dengan oversharing bahkan pada hal-hal pribadi yang sensitif.
Cara Mengatasi Melakukan Trauma Dumping
Berikut ini adalah cara yang dapat diikuti agar berhenti melakukan trauma dumping:
1. Kenali Batasan
Sebelum ingin menceritakan segala sesuatu pada orang lain, alangkah baiknya untuk mengenal batasan hal-hal yang bisa diceritakan dan tidak.
Jangan sampai kita juga memaksa orang lain untuk menceritakan segalanya karena menghargai batasan juga merupakan bentuk empati dalam menjaga komunikasi dan hubungan dengan seseorang.
2. Pilih Waktu dan Tempat yang Tepat
Jangan sampai ketika menceritakan trauma atau masalah hidup kita tidak mengenal waktu dan tempat yang tepat. Jangan sampai hal tersebut membuat orang lain merasa tidak nyaman dan terganggu.
3. Cari Dukungan
Carilah dukungan kepada orang-orang terdekat yang dapat dipercaya. Dengan mencari dukungan, akan membuat kita menjadi lebih percaya diri dalam menghadapi setiap masalah yang ada.
4. Mengontrol Emosi
Jangan lupa untuk senantiasa mengontrol emosi dalam setiap masalah. Hal ini berguna agar tidak sampai menyakiti hati orang lain dan membuatnya merasa tersudutkan.
Itulah tadi pembahasan mengenai trauma dumping, penyebabnya, dan cara mengatasinya. Jika sudah sampai ditahap yang mengkhawatirkan, jangan lupa untuk segera melakukan tindakan dengan konsultasi kepada psikolog. Jangan sampai hal ini justru akan memberikan dampak negatif yang lebih luas ke diri sendiri maupun orang lain.
Baca Juga: 3 Bahaya Oversharing di Media Sosial: Batas Privasi Sebelum Terlambat!
Penulis: Suci Wulandari




