Suara Online – Banyak orang mengira trauma hanya berasal dari peristiwa besar dan menyakitkan. Padahal, trauma kecil yang terjadi berulang kali justru sering membentuk kepribadian seseorang saat dewasa.
Trauma kecil ini bisa berupa dimarahi terus-menerus, diabaikan perasaannya, dibanding-bandingkan, atau tidak pernah didengar pendapatnya sejak kecil.
Trauma kecil sering kali tidak disadari karena dianggap wajar. Kalimat seperti “ah, cuma bercanda”, “dulu juga semua orang ngalamin”, atau “itu kan hal sepele” membuat luka emosional tertimbun tanpa pernah disembuhkan.
Padahal, dampaknya bisa terbawa hingga dewasa dan memengaruhi cara seseorang berpikir, bersikap, serta menjalin hubungan.
Seseorang yang mengalami trauma kecil bisa tumbuh menjadi pribadi yang terlalu takut mengecewakan orang lain. Ia cenderung sulit berkata tidak, mudah merasa bersalah, dan selalu berusaha menyenangkan sekitar.
Ada juga yang menjadi terlalu tertutup karena terbiasa merasa tidak aman saat mengekspresikan emosi.
Selain itu, trauma kecil dapat membentuk mekanisme bertahan hidup. Misalnya, menjadi perfeksionis agar tidak disalahkan, bersikap dingin untuk melindungi diri, atau selalu waspada karena takut disakiti lagi. Tanpa disadari, pola ini terus berulang dan memengaruhi kualitas hidup.
Menyadari keberadaan trauma kecil adalah langkah awal untuk berubah. Bukan untuk menyalahkan masa lalu.
Tetapi untuk memahami mengapa kita bereaksi dengan cara tertentu hari ini. Dengan kesadaran ini, kita bisa mulai belajar merespons hidup dengan lebih sehat.
Pada akhirnya, trauma kecil memang tidak selalu terlihat, tetapi pengaruhnya nyata. Mengenali dan memulihkannya adalah bentuk kepedulian pada diri sendiri.
Agar kepribadian dewasa yang terbentuk tidak lagi dikendalikan oleh luka lama, melainkan oleh kesadaran dan pilihan yang lebih matang.
Baca Juga : Seni Menenangkan Diri Tanpa Distraksi Digital di Tengah Hidup yang Serba Cepat




