Kalau beberapa tahun lalu media sosial dipenuhi video haul, unboxing, dan belanja impulsif, belakangan justru muncul tren yang berkebalikan. Namanya Underconsumption Core.
Tren ini mengajak seseorang untuk menggunakan barang yang sudah dimiliki selama masih layak pakai, membeli sesuai kebutuhan, dan mengurangi kebiasaan konsumtif. Bukan berarti anti-belanja, tetapi lebih sadar sebelum mengeluarkan uang. Tak heran jika gaya hidup ini mulai banyak diminati, terutama oleh Gen Z.
1. Biaya Hidup Terus Meningkat
Harga kebutuhan pokok, biaya transportasi, hingga tempat tinggal yang terus naik membuat banyak anak muda mulai berpikir ulang sebelum berbelanja. Mereka lebih memilih memastikan apakah suatu barang benar-benar dibutuhkan atau hanya sekadar keinginan sesaat.
Laporan Deloitte dalam Gen Z and Millennial Survey menyebutkan bahwa tingginya biaya hidup menjadi salah satu kekhawatiran terbesar Gen Z. Kondisi tersebut membuat banyak dari mereka mulai lebih berhati-hati dalam mengatur pengeluaran.
2. Mulai Lelah dengan Gaya Hidup Konsumtif
Tidak sedikit anak muda yang merasa lelah dengan budaya membeli barang hanya demi mengikuti tren di media sosial. Kini, banyak yang memilih menggunakan pakaian lama, memperbaiki barang yang masih layak, atau menunda pembelian jika belum benar-benar diperlukan.
3. Media Sosial Justru Mengubah Pola Pikir
Menariknya, media sosial yang dulu identik dengan budaya konsumtif kini menjadi tempat berkembangnya tren Underconsumption Core. Banyak kreator membagikan pengalaman menghabiskan produk hingga benar-benar habis, memakai barang bertahun-tahun, hingga menunjukkan bahwa hidup sederhana tetap bisa terasa menyenangkan.
Fenomena ini turut dibahas oleh BBC yang menjelaskan bahwa Underconsumption Core merupakan tren yang mendorong masyarakat untuk lebih bijak menggunakan barang yang sudah dimiliki, bukan terus membeli yang baru.
4. Ingin Keuangan Lebih Sehat
Mengurangi belanja impulsif membuat kondisi keuangan menjadi lebih terkontrol. Uang yang biasanya digunakan untuk membeli barang yang kurang penting dapat dialihkan menjadi tabungan, dana darurat, atau investasi.
Menurut NielsenIQ, konsumen kini semakin selektif dalam berbelanja dan lebih memprioritaskan kebutuhan dibandingkan keinginan.
5. Lebih Peduli terhadap Lingkungan
Menggunakan barang lebih lama juga membantu mengurangi limbah. Semakin sedikit barang yang dibeli, semakin kecil pula sampah yang dihasilkan. Karena itu, tren ini juga dianggap sejalan dengan gaya hidup yang lebih ramah lingkungan.
6. Bahagia Tidak Selalu Datang dari Barang Baru
Banyak orang mulai menyadari bahwa kebahagiaan tidak selalu berasal dari barang baru. Menghabiskan waktu bersama keluarga, memiliki kondisi keuangan yang lebih stabil, atau sekadar tidak merasa terbebani oleh keinginan untuk terus berbelanja justru memberikan rasa nyaman yang lebih bertahan lama.
7. Hidup Terasa Lebih Ringan
Rumah tidak dipenuhi barang yang jarang digunakan, pengeluaran lebih terkendali, dan pikiran pun terasa lebih tenang. Itulah alasan mengapa semakin banyak anak muda mulai mencoba menerapkan gaya hidup ini.
CNBC Make It menyebut Underconsumption Core bukan berarti hidup serba kekurangan. Sebaliknya, tren ini mengajak seseorang untuk lebih sadar terhadap kebiasaan belanja agar kondisi finansial tetap sehat tanpa harus mengorbankan kualitas hidup.
Pada akhirnya, Underconsumption Core bukan soal menjadi pelit atau anti-belanja. Gaya hidup ini mengajarkan bahwa membeli lebih sedikit bukan berarti menikmati hidup lebih sedikit. Justru dengan membeli sesuai kebutuhan dan memanfaatkan apa yang sudah dimiliki, seseorang bisa hidup lebih tenang, keuangan lebih sehat, dan tidak mudah terjebak dalam tekanan untuk selalu mengikuti tren.
Baca Juga: Soft Saving Kian Populer, Begini Cara Gen Z Kelola Uang










