Suaraonline.com – Produk Whip pink akhir-akhir ini sedang banyak dibicarakan oleh masyarakat Indonesia. Banyak masyarakat Indonesia yang baru tahu jika produk yang dikenal dalam dunia baking dan medis ini, malah disalahgunakan di kalangan remaja.
Produk ini berisikan N2O yang dapat memberikan rasa rileks, euforia sesaat hingga halusinasi ringan. Berbeda dengan alkohol, produk ini hanya akan memberikan efek “melayang” yang bertahan beberapa menit saja serta tidak memberikan efek mabuk.
Sebenarnya penyalahgunaan Whip Pink di kalangan muda-mudi, sudah terendus di banyak negara yang secara terang-terangan sudah melarang peredaran produk ini. Negara yang melarang kepemilikan nitrous oxide untuk tujuan rekreasi di antaranya Inggris, Amerika Serikat, Australia dan beberapa negara Eropa lainnya.
Di Indonesia sendiri, produk ini belum dinyatakan sebagai narkotika maupun psikotropika, namun setelah heboh berita penyalahgunaan produk ini, BNN telah mengawasi peredaran produk ini di masyarakat.
Kesenangan sesaat yang didapat dari produk ini, tidak layak rasanya untuk dibayar dengan ancaman kesehatan jangka panjang yang mengikutinya. Namun, mengapa banyak orang yang masih memilihnya untuk mencari hiburan melalui produk ini? Padahal, ada banyak sekali hiburan lumrah yang bisa kita dapatkan dengan mudah?
Menurut teori hedonic adaptation, manusia cepat beradaptasi dengan kesenangan. Sensasi yang awalnya terasa luar biasa, lama-kelamaan menjadi biasa saja. Akibatnya, hiburan sederhana seperti bercengkrama, berolahraga, main game, nonton atau menikmati hobi tak lagi memberikan sensasi yang sama.
Hal ini juga bisa disebabkan karena otak terus-terusan diberikan lonjakan dopamin secara instan, yang membuat otak terus menagih untuk pemenuhan standar dopamin yang sudah terlanjur tinggi, fenomena ini disebut dalam budaya instant gratification yang mengatakan bahwa masyarakat terbiasa dengan kepuasan serba cepat.
Sedangkan menurut Sosiologi, Jean Baudrillard mengatakan bahwa masyarakat konsumtif tidak lagi sekadar mengonsumsi barang, tetapi sensasi dan pengalaman. Ketika sensasi lama tak lagi memuaskan, sensasi baru dicari, meski risikonya besar.
Mengacu pada berbagai teori diatas, ada beberapa faktor yang dapat menjelaskan mengapa sebagian muda-mudi menjadikan Whip Pink sebagai alternatif hiburan.
Pertama, otak manusia telah terbiasa dengan hiburan yang mudah diakses sehingga kesenangan yang bersifat lumrah tidak lagi terasa luar biasa. Ketika ambang kenikmatan meningkat, sensasi biasa menjadi terasa datar.
Kedua, paparan lonjakan dopamin secara instan membuat otak cenderung menuntut stimulasi yang lebih tinggi. Akibatnya, manusia terdorong mencari hiburan yang dianggap “lebih ekstrem” demi memperoleh sensasi yang sama kuatnya.
Ketiga, dalam masyarakat modern yang semakin konsumtif, yang dikejar bukan lagi sekadar fungsi, melainkan pengalaman dan sensasi. Ketika sensasi menjadi standar kebahagiaan, pertimbangan risiko sering kali terpinggirkan.
Dengan demikian, fenomena Whip Pink bukan sekadar persoalan zat, melainkan refleksi perubahan standar kesenangan di tengah budaya yang serba instan.
Baca Juga: Dampak Patriarki Pada Pola Pikir Anak Laki-laki
Editor: Annisa Adelina Sumadillah.




