Suaraonline.com – Dalam dinamika keluarga, posisi anak sering kali mempengaruhi cara mereka diperlakukan dan dipahami. Anak pertama kerap dipandang sebagai harapan dan kebanggaan, sementara anak bungsu identik dengan sosok yang dimanja. Sedangkan, anak tengah berada pada posisi terjepit di antara kakak dan adik.
Tidak sedikit anak tengah yang tumbuh dengan perasaan harus selalu mengerti, mengalah, dan menyesuaikan diri. Tanpa disadari, tuntutan tersebut membentuk beban emosional yang dipikul sejak kecil hingga dewasa.
Derita Anak Tengah
Derita anak tengah sering dimulai dari tuntutan untuk selalu mengalah. Ketika berhadapan dengan kakak, mereka diminta mengalah karena dianggap masih kecil dan belum banyak mengerti.
‘Kamu masih kecil, jangan ngebantah Kakak.’
Namun, saat berhadapan dengan adik, mereka kembali diminta mengalah karena dianggap sudah lebih besar dan harus lebih dewasa.
‘Kamu sudah dewasa, seharusnya ngalah sama adik.’
Dua situasi yang berbeda, tetapi selalu meletakkan anak tengah pada posisi yang sama yaitu harus selalu mengalah. Hal ini yang akan menjadi luka yang tanpa sadar membuat mereka bertanya, ‘terus kapan aku boleh menang?’
Kedua, anak tengah kerap berada dalam posisi yang tidak jelas. Mereka bukan anak yang dinanti-nanti seperti anak pertama, yang kehadirannya penuh harapan dan ekspektasi.
Mereka juga bukan anak terakhir yang sering mendapatkan perhatian lebih dan kasih sayang ekstra. Posisi di tengah membuat keberadaan mereka kerap luput dari perhatian, seolah dianggap akan baik-baik saja tanpa perlu diperhatikan secara khusus.
Derita anak tengah juga diperkuat oleh stereotip masyarakat yang menganggap mereka sebagai pribadi yang kuat, sabar, dan mandiri.
Label ini membuat anak tengah sering diharapkan bisa berdiri sendiri dan menyelesaikan masalahnya tanpa bantuan. Akibatnya, mereka jarang dikuatkan secara emosional dan terbiasa memendam perasaan.
Derita anak tengah bukanlah mitos semata, melainkan realitas yang sering dialami banyak orang. Memahami posisi dan beban emosional mereka adalah langkah awal untuk menciptakan lingkungan keluarga yang lebih adil, hangat, dan saling menguatkan.
Jadi, itulah beberapa derita anak tengah, yang bukan hanya soal iri pada saudara, melainkan tentang kebutuhan untuk diakui dan dipahami.
Baca Juga: 4 Manfaat Menjadi Orang Aneh, Ternyata Bisa Mengurangi Stres
Editor: Annisa Adelina Sumadillah




