Suara Online – Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini.
Berdasarkan data pasar spot, rupiah ditutup melemah hingga menembus level Rp16.400 per dolar AS. Pelemahan ini dipicu oleh sentimen global, terutama tingginya suku bunga acuan The Federal Reserve.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengatakan tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi arus modal asing yang keluar dari pasar negara berkembang. “Investor cenderung mencari aset aman di tengah ketidakpastian global,” ujarnya.
Sementara itu, Bank Indonesia menegaskan akan terus menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi di pasar valas dan obligasi.
Gubernur BI Perry Warjiyo menyebut pelemahan rupiah masih relatif terkendali dibanding mata uang negara lain di kawasan Asia.
“Fundamental ekonomi Indonesia masih kuat dengan inflasi rendah dan cadangan devisa memadai,” kata Perry dalam konferensi pers.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap rupiah berpotensi berlanjut apabila tensi geopolitik global meningkat. Menurutnya, kondisi tersebut membuat permintaan dolar AS semakin tinggi.
Pelaku usaha juga mulai mengkhawatirkan dampak pelemahan rupiah terhadap biaya impor bahan baku.
Ketua Apindo menyebut kenaikan kurs dapat memicu biaya produksi lebih mahal dan berpengaruh pada harga barang di dalam negeri.
Pemerintah memastikan akan terus memantau perkembangan pasar keuangan guna menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan koordinasi fiskal dan moneter terus diperkuat agar gejolak eksternal tidak berdampak besar pada perekonomian domestik.




