Suara Online – Nilai tukar rupiah kembali melemah di tengah meningkatnya tekanan ekonomi global. Pada perdagangan hari ini, rupiah berada di level Rp16.450 per dolar AS, mendekati titik terlemah sejak krisis pandemi.
Direktur Eksekutif Segara Research Institute, Piter Abdullah, mengatakan penguatan dolar AS menjadi faktor utama pelemahan mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia. “Pasar masih menunggu arah kebijakan suku bunga AS,” ujarnya.
Selain faktor eksternal, ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah juga dinilai memicu gejolak pasar keuangan dunia. Investor cenderung menarik dana dari aset berisiko dan beralih ke dolar AS.
Bank Indonesia memastikan stabilitas sistem keuangan nasional tetap terjaga. Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan pihaknya telah melakukan langkah stabilisasi melalui intervensi pasar valas dan operasi moneter.
“Koordinasi dengan pemerintah terus diperkuat untuk menjaga kepercayaan pasar,” kata Perry.
Pengamat pasar modal Hans Kwee menilai pelemahan rupiah dapat berdampak pada sektor usaha yang memiliki utang dalam dolar AS. Menurutnya, beban pembayaran akan meningkat apabila nilai tukar terus melemah.
Meski demikian, beberapa sektor eksportir diperkirakan justru memperoleh keuntungan dari kondisi tersebut. Pelemahan rupiah membuat produk ekspor Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar internasional.
Pemerintah berharap kondisi pasar keuangan global segera membaik agar tekanan terhadap rupiah dapat mereda dalam waktu dekat.
Baca Juga : Rupiah Terpuruk, Harga Impor Diprediksi Naik




