Suara Online – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diperkirakan berdampak pada kenaikan harga barang impor. Rupiah tercatat berada di kisaran Rp16.300 per dolar AS pada perdagangan akhir pekan ini.
Pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia, Fithra Faisal, mengatakan depresiasi rupiah akan meningkatkan biaya impor, terutama untuk sektor pangan dan energi. “Jika berlangsung lama, tekanan inflasi domestik bisa meningkat,” ujarnya.
Kondisi tersebut mulai dirasakan pelaku industri manufaktur yang masih bergantung pada bahan baku impor.
Ketua Gabungan Pengusaha Elektronik menyebut beberapa perusahaan telah menyesuaikan strategi produksi untuk mengurangi risiko kerugian akibat fluktuasi kurs.
Di sisi lain, Bank Indonesia menilai pelemahan rupiah masih dipengaruhi faktor eksternal, termasuk penguatan dolar AS secara global. “Kami terus berada di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar,” kata Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti.
Analis mata uang Lukman Leong menjelaskan pasar saat ini masih dibayangi kekhawatiran perlambatan ekonomi dunia. Menurutnya, investor global memilih menempatkan dana pada instrumen berdenominasi dolar AS yang dianggap lebih aman.
Pemerintah optimistis tekanan terhadap rupiah bersifat sementara. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat menopang stabilitas pasar.
“Kinerja ekspor tetap baik dan investasi masih tumbuh positif,” katanya.
Meski demikian, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap potensi kenaikan harga kebutuhan pokok akibat pelemahan mata uang nasional tersebut.
Baca Juga : Rupiah Melemah ke Level Terendah dalam Empat Tahun




