Suara Online – Penguatan dolar AS kembali menekan nilai tukar rupiah pada perdagangan awal pekan. Mata uang Garuda tercatat melemah hingga mendekati Rp16.500 per dolar AS.
Pengamat pasar uang Ariston Tjendra mengatakan sentimen global masih menjadi faktor dominan pelemahan rupiah. “Data ekonomi AS yang kuat membuat dolar semakin perkasa,” ujarnya.
Selain itu, ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga tinggi di AS membuat aliran modal asing keluar dari negara berkembang. Kondisi tersebut turut memengaruhi pasar saham dan obligasi domestik.
Bank Indonesia menyatakan terus memantau perkembangan pasar keuangan global. “Kami memastikan stabilitas nilai tukar tetap terjaga,” kata Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono.
Di tengah tekanan kurs, sektor importir disebut menghadapi tantangan kenaikan biaya transaksi internasional. Namun, eksportir dinilai masih memperoleh keuntungan karena nilai tukar yang lebih tinggi meningkatkan pendapatan dalam rupiah.
Ekonom INDEF Bhima Yudhistira menilai pemerintah perlu memperkuat daya tahan ekonomi domestik agar tidak terlalu rentan terhadap gejolak eksternal. Menurutnya, diversifikasi ekspor dan penguatan industri dalam negeri menjadi langkah penting.
Pemerintah optimistis kondisi rupiah akan kembali stabil seiring meredanya tekanan global. Meski demikian, pelaku pasar diminta tetap mencermati perkembangan ekonomi internasional yang dapat memengaruhi pergerakan mata uang nasional.
Baca Juga : Rupiah Anjlok, Pelaku Usaha Mulai Waspada




