Suaraonline.com – Di ruang keluarga, bahkan di linimasa media sosial, kita sering mendengar kalimat-kalimat yang terdengar tegas, realistis, dan seolah penuh kebijaksanaan. Ucapan itu disampaikan dengan nada yakin, kadang dibungkus pengalaman hidup, sehingga sulit dibantah dan seolah baik untuk pengembangan diri.
Namun tidak semua kalimat yang terdengar dewasa benar-benar sehat bagi pengembangan diri. Sebagian justru menyimpan bias, penghakiman, bahkan pembenaran atas sikap yang keliru.
Ucapan yang Menghambat Pengembangan Diri
Pertama, “perempuan sekolah tinggi buat apa? Ujungnya juga harus di dapur.” Kalimat ini tampak seperti nasihat realistis tentang peran domestik, padahal ia mereduksi potensi manusia hanya berdasarkan jenis kelamin. Pendidikan bukan sekadar tiket pekerjaan, melainkan proses pembentukan nalar, kemandirian, dan martabat.
Mengerdilkan pendidikan perempuan sama saja menutup pintu kontribusi besar yang bisa ia berikan bagi keluarga dan masyarakat. Jiwa yang terus-menerus mendengar kalimat seperti ini bisa tumbuh dalam rasa tidak layak dan terbatas.
Kedua, “percuma rajin ibadah tapi masih sering maksiat.” Sekilas terdengar seperti kritik moral yang tegas. Namun jika diucapkan tanpa empati, kalimat ini berubah menjadi penghakiman yang mematahkan semangat orang untuk terus memperbaiki diri.
Proses spiritual tidak selalu lurus dan sempurna. Seseorang bisa saja masih jatuh dalam kesalahan, tetapi tetap berusaha mendekat kepada Tuhan. Menganggap semuanya sia-sia justru mendorong rasa putus asa, seolah tak ada gunanya mencoba.
Ketiga, “banyak anak banyak rejeki.” Ucapan ini sering dianggap sebagai bentuk optimisme. Padahal tanpa kesiapan mental, finansial, dan emosional, banyak anak bisa berarti beban besar bagi orang tua dan anak itu sendiri.
Rezeki memang datang dari Tuhan, tetapi manusia tetap dituntut berikhtiar dan mempertimbangkan kemampuan. Mengulang kalimat ini tanpa tanggung jawab bisa membuat orang mengabaikan perencanaan yang matang.
Keempat, “aku mulut aja yang jahat, tapi hati baik.” Ini adalah bentuk pembenaran diri yang paling halus. Seolah-olah niat baik cukup untuk menghapus luka yang ditimbulkan oleh kata-kata. Padahal ucapan bisa meninggalkan bekas panjang di jiwa orang lain.
Mengaku berhati baik tidak otomatis menghapus dampak dari hinaan, sindiran, atau cemoohan. Kedewasaan sejati justru terlihat dari kemampuan menjaga lisan.
Kelima, “hidup cuma sekali, cobain semua jangan sampai nyesel.” Kalimat ini populer dan terdengar berani. Namun jika dimaknai tanpa batas, ia bisa menjadi pintu pembenaran untuk perilaku berisiko dan merusak diri. Hidup memang satu kali, justru karena itu ia berharga dan tidak layak dipertaruhkan untuk kesenangan sesaat. Tidak semua pengalaman perlu dicoba untuk disebut tidak menyesal.
Jadi, itulah beberapa ucapan yang terdengar dewasa dan dibalut pengalaman, atau keberanian tapi tidak baik untuk pengembangan diri. Karena kedewasaan sejati bukan tentang terdengar tegas, melainkan tentang membawa kebaikan nyata bagi diri dan orang lain.
Jiwa yang sehat tumbuh dari kata-kata yang adil, penuh empati, dan bertanggung jawab. Karena pada akhirnya, kalimat bukan sekadar bunyi, melainkan arah yang bisa membentuk cara seseorang memandang dirinya dan dunia.
Baca Juga: Sering Dianggap Sama! Apa Perbedaan Rhinitis dan Sinusitis?
Editor: Annisa Adelina Sumadillah.




