Suaraonline.com – Istilah fatherless sering kali langsung dimaknai sebagai ketiadaan sosok ayah dalam keluarga. Padahal, persoalannya tidak selalu tentang ayah yang pergi atau tidak bertanggung jawab.
Pembahasan ini kembali ramai diperbincangkan di media sosial, banyak content creator yang menggambarkan secara ringan mengenai peran ayah dalam keluarga yang perlahan seolah tidak terlihat, meski ada. Dalam video singkat digambarkan bahwa anak selalu mencari ibunya dan bahkan saat ada ayahnya, mereka tetap mencari ibunya.
Di Indonesia, persoalan itu kerap sering terjadi, ayah hadir secara fisik, tetapi tak diberi ruang untuk hadir secara emosional. Ayah selalu ditempatkan pada ruang, pencari nafkah yang bertanggung jawab secara luas pada keluarga sehingga perannya dianggap “harus” banyak di luar rumah. Selain itu, kebiasaan sosial kitalah yang sering kali membatasi peran itu.
Sejak lama, pengasuhan anak seolah otomatis dilekatkan pada ibu. Saat pembagian rapor, sekolah lebih sering memanggil ibu. Ketika anak sakit, ibu yang dianggap paling wajar untuk begadang dan mengurus obat.
Jika ada pertemuan wali murid, ibu lagi yang datang, kalau ayah yang datang, tidak jarang banyak yang bertanya, “ibunya kemana?”. Dalam percakapan sehari-hari, frasa “tanya ke mama dulu” lebih umum terdengar daripada “tanya ke ayah.” Perlahan, peran ayah terua menyempit hanya karena urusan mencari nafkah.
Kebiasaan ini terlihat sepele, tetapi dampaknya panjang. Ayah dan anak kehilangan banyak momen bonding yang seharusnya membangun kedekatan emosional. Anak tumbuh dengan persepsi bahwa figur yang paling memahami dirinya adalah ibu, sementara ayah terasa lebih jauh, lebih formal, atau bahkan canggung. Di sisi lain, ayah juga bisa merasa tak terbiasa terlibat karena ruangnya sejak awal memang tidak dibuka.
Masalahnya bukan semata pada individu ayah yang tidak mau terlibat. Budaya sosial kita secara tak sadar mengukuhkan pembagian peran yang kaku. Ketika ayah ingin lebih aktif, terkadang justru dianggap “membantu ibu”, bukan menjalankan tanggung jawab yang setara. Kata “membantu” sendiri sudah menunjukkan bahwa pusat pengasuhan tetap dilekatkan pada ibu.
Akibatnya, anak pun terbiasa menjadikan ibu sebagai pusat segala hal. Ketika remaja dan menghadapi persoalan emosional, mereka cenderung lebih nyaman bercerita pada ibu. Hubungan dengan ayah sering kali minim percakapan mendalam. Dalam jangka panjang, pola ini berpotensi melanggengkan generasi ayah yang kembali canggung dengan anaknya sendiri.
Jika ingin keluar dari bayang-bayang fatherless secara emosional, kebiasaan ini perlu diubah. Sekolah bisa mulai mendorong kehadiran ayah dalam agenda pendidikan anak. Keluarga bisa secara sadar membagi peran pengasuhan, bukan sekadar tugas domestik. Ayah bukan sekadar mesin pencari nafkah, dan ibu bukan satu-satunya pusat emosi keluarga.
Kehadiran ayah yang utuh bukan hanya soal ada di rumah, tetapi soal keterlibatan yang nyata. Tanpa itu, kita mungkin tidak kehilangan ayah secara fisik, tetapi kehilangan kedekatan yang seharusnya membentuk generasi yang lebih seimbang secara emosional.
Editor: Annisa Adelina Sumadillah.




