Suaraonline.com – Program MBG yang tetap berjalan selama bulan Ramadhan menuai sorotan tajam dari warganet. Kritik bermunculan salah satunya pada video yang di unggah di Tiktok dengan nama akun @Amiifarel
Dalam video singkat berdurasi 30 detik itu memperlihatkan isi paket MBG yang dinilai jauh dari kata layak. Dalam video yang beredar, paket MBG disebut hanya berisi satu butir telur asin bebek, empat buah kurma, roti kemasan murah yang kerap disebut “roti seribuan”, serta sebungkus kecil keripik pisang seharga sekitar dua ribu rupiah.
Warganet mempertanyakan nilai gizi dan kesesuaian menu tersebut, terutama karena dibagikan di bulan puasa yang seharusnya memperhatikan kebutuhan energi penerima manfaat.
Sejumlah warganet bahkan menuding bahwa program MBG berpotensi menjadi ladang korupsi. Mereka menduga adanya pemotongan anggaran sehingga makanan yang diterima masyarakat dinilai tidak sebanding dengan dana yang seharusnya dialokasikan.
Bahkan, muncul tren perbandingan yang viral di media sosial, di mana warganet menyandingkan isi MBG dengan sesajen. Dalam narasi yang beredar, sesajen disebut-sebut justru tampak lebih beragam dan bergizi dibandingkan paket MBG yang dibagikan. Perbandingan ini memicu perdebatan baru sekaligus memperlihatkan tingkat kekecewaan sebagian masyarakat.
Warganet dalam video itu bahkan menyarankan agar MBG dihentikan sementara jika pelaksanaannya justru merugikan masyarakat dan membuka celah penyimpangan anggaran.
Di beberapa daerah, beredar pula rekaman aksi demo yang meminta penghentian MBG yang diunggah pada akun TikTok @patinews. Kritik yang mengalir menunjukkan tingginya ekspektasi publik terhadap transparansi dan akuntabilitas program bantuan pangan.
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari pihak penyelenggara terkait viralnya keluhan tersebut. Namun, derasnya kritik di ruang digital menjadi sinyal bahwa masyarakat menuntut evaluasi menyeluruh agar program sosial benar-benar tepat sasaran dan memenuhi standar kelayakan.
Baca Juga: Siswa SD Lahap Santap Menu MBG, Warganet Soroti Kesenjangan Menu di Berbagai Daerah
Editor: Annisa Adelina Sumadillah




