Boyolali, Suara Online — Pelaksanaan qurban Yayasan Alfatihah 2026 menjadi salah satu contoh pengelolaan ibadah qurban berskala besar yang melibatkan generasi muda atau Gen Z dengan pendekatan kerja yang lebih terstruktur, sistematis, dan berbasis manajemen data di lapangan.
Tahun ini, sebanyak 219 panitia Gen Z Alfatihah terlibat langsung dalam operasional qurban. Mereka menangani proses penyembelihan sebanyak 1.548 hewan qurban yang terdiri dari sapi, kambing, dan domba, melalui alur kerja terintegrasi dari kandang hingga distribusi akhir.
Sistem Kerja Terstruktur dari Hulu ke Hilir
Seluruh proses qurban dijalankan dengan pembagian tugas yang jelas melalui penanggung jawab area dan supervisor (SPV) di setiap lini.
Sistem ini memastikan setiap tahapan berjalan tertib, cepat, dan sesuai standar operasional prosedur (SOP).
Tahapan tersebut dimulai dari pendataan dan katalogisasi hewan, pengelolaan kandang, proses penyembelihan, pengulitan, pencacahan, hingga packing dan distribusi kepada penerima manfaat di berbagai wilayah.
Inovasi Gen Z: Sistem Data, Real Count, hingga Cold Storage
Salah satu hal yang menjadi sorotan dari pelaksanaan qurban tahun ini adalah penerapan inovasi kerja oleh panitia Gen Z, terutama dalam sistem pencatatan dan pengelolaan hasil qurban.
Panitia menerapkan sistem real count untuk memastikan jumlah hewan yang diproses dan hasil olahannya tercatat secara akurat dan transparan di setiap tahap kerja.
Selain itu, hasil karkas juga tidak langsung didistribusikan, melainkan melalui proses penyimpanan terkontrol di ABF (Air Blast Freezer) dan cold storage.
ABF merupakan ruang pembekuan cepat yang berfungsi menurunkan suhu daging dalam waktu singkat untuk menjaga kualitas, sementara cold storage digunakan untuk penyimpanan daging beku dalam jangka waktu tertentu agar tetap higienis dan layak distribusi.
Sistem ini membantu memastikan kualitas daging qurban tetap terjaga sebelum disalurkan kepada penerima manfaat.
Koordinasi Lapangan yang Lebih Modern
Di lapangan, Gen Z juga mengelola sistem kerja berbasis pembagian area yang ketat, mulai dari penyembelihan, pengulitan, pencacahan, hingga packing.
Setiap titik kerja memiliki penanggung jawab dan sistem kontrol yang memastikan alur produksi tidak terhambat.
Pada tahap distribusi, daging qurban yang telah diproses kemudian disalurkan kepada santri, anak yatim piatu, kaum dhuafa, serta masyarakat di berbagai wilayah yang telah terdata sebelumnya.
Pembelajaran Manajemen Skala Besar untuk Generasi Muda
Dengan sistem kerja tersebut, pengelolaan 1.548 hewan qurban dapat berjalan lebih efisien, terkontrol, dan berbasis data.
Yayasan Alfatihah menilai keterlibatan 219 panitia Gen Z ini bukan hanya sebagai pelaksana teknis, tetapi juga sebagai proses pembelajaran langsung dalam manajemen operasional skala besar.
Melalui pengalaman ini, generasi muda diharapkan semakin memahami pentingnya sistem, koordinasi, dan teknologi sederhana dalam mendukung kegiatan sosial-keagamaan agar lebih efektif dan berdampak luas bagi masyarakat.
Baca Juga : Begini Proses Penanganan Karkas di Qurban Alfatihah 2026 yang Jadi Sorotan




