Suara Online – Kerja dari rumah atau work from home (WFH) dulu sempat dianggap lebih nyaman dibanding kerja kantoran. Namun belakangan, banyak anak muda justru mengaku mengalami burnout meski bekerja dari rumah.
Fenomena ini ramai dibahas di TikTok, X, hingga LinkedIn. Banyak pekerja muda merasa mental mereka tetap lelah walau tidak harus berangkat ke kantor setiap hari.
Komentar seperti “di rumah tapi rasanya tetap capek kerja terus” hingga “WFH bikin otak nggak pernah benar-benar istirahat” ramai muncul di media sosial.
Fenomena burnout saat WFH kini semakin sering dibicarakan, terutama di kalangan Gen Z dan pekerja digital.
Batas Kerja dan Istirahat Dinilai Jadi Tidak Jelas
Salah satu hal yang paling banyak dikeluhkan pekerja adalah batas antara waktu kerja dan waktu pribadi yang semakin kabur saat kerja dari rumah.
Banyak orang mengaku sulit benar-benar berhenti bekerja karena laptop dan chat kantor selalu ada di dekat mereka.
Tidak sedikit pekerja yang akhirnya tetap membalas pesan kantor di malam hari, akhir pekan, bahkan saat sedang istirahat.
Akibatnya, banyak orang merasa jam kerja menjadi lebih panjang dibanding saat bekerja di kantor.
Meeting Online dan Target Kerja Jadi Sorotan
Selain soal jam kerja, meeting online yang terus-menerus juga menjadi keluhan banyak pekerja remote.
Sebagian pekerja mengaku merasa lebih cepat lelah karena harus terus menatap layar laptop sepanjang hari untuk meeting virtual dan pekerjaan online.
Di media sosial, banyak netizen menyebut WFH justru membuat pekerjaan terasa lebih padat karena komunikasi digital berlangsung hampir tanpa jeda.
Komentar seperti “meeting online sehari penuh bikin kepala capek” ramai dibahas di TikTok dan X.
Burnout Kini Banyak Dialami Anak Muda
Fenomena burnout paling sering dibahas kalangan anak muda karena generasi ini paling banyak bekerja di sektor digital dan remote.
Banyak Gen Z mengaku tekanan kerja tetap terasa tinggi meski mereka bekerja dari kamar atau rumah sendiri.
Sebagian juga merasa kerja remote membuat mereka lebih kesepian karena minim interaksi sosial langsung dengan rekan kerja.
Akibatnya, banyak pekerja mulai merasa cepat lelah secara mental meski secara fisik tidak terlalu banyak aktivitas.
Media Sosial Bikin Orang Lebih Terbuka Bahas Burnout
Ramainya pembahasan burnout menunjukkan bahwa anak muda kini semakin terbuka membicarakan kesehatan mental dan tekanan kerja.
Jika dulu burnout sering dianggap tanda kurang kuat bekerja, sekarang banyak orang mulai sadar bahwa kelelahan mental bisa dialami siapa saja, termasuk pekerja remote.
Media sosial juga membuat pengalaman burnout lebih mudah dibagikan dan menjadi diskusi publik.
WFH Tetap Disukai, Tapi Tantangannya Mulai Terlihat
Meski banyak mengeluhkan burnout, sebagian pekerja tetap menganggap WFH memiliki banyak keuntungan seperti hemat waktu perjalanan dan lebih fleksibel.
Namun fenomena ini menunjukkan bahwa kerja dari rumah tidak selalu membuat hidup lebih santai.
Tanpa batas kerja yang jelas dan manajemen waktu yang baik, banyak pekerja justru merasa lebih mudah kelelahan secara mental meski bekerja dari rumah.




