Suara Online, Semarang – Kenaikan harga Pertamax dinilai berpotensi mengubah pola konsumsi masyarakat. Naiknya harga Pertamax membuat sebagian pengguna Pertamax diperkirakan beralih ke Pertalite yang masih mendapat subsidi. Dampak dari kenaikan harga Pertamax tersebut dinilai perlu diantisipasi pemerintah dan PT Pertamina Patra Niaga agar tidak memicu lonjakan konsumsi BBM subsidi.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengatakan perbedaan harga Pertamax dan Pertalite yang semakin lebar dapat memengaruhi keputusan masyarakat dalam memilih bahan bakar. Dengan harga Pertalite yang tetap Rp10.000 per liter, sedangkan harga Pertamax naik menjadi Rp16.250 per liter, sebagian pengguna Pertamax diperkirakan akan mencari pilihan yang lebih terjangkau dari harga Pertamax.
Menurut Yusuf, perpindahan pengguna Pertamax ke Pertalite berpotensi meningkatkan konsumsi BBM subsidi dalam beberapa waktu mendatang. Berdasarkan simulasi yang dilakukan, konsumsi Pertalite dalam skenario moderat diperkirakan meningkat sekitar 7 persen. Kenaikan tersebut masih dinilai dapat ditampung oleh kuota yang tersedia sehingga distribusi BBM subsidi masih berjalan normal.
Namun, apabila perpindahan pengguna Pertamax karena kenaikan harga Pertamax berlangsung lebih besar, konsumsi Pertalite diperkirakan dapat meningkat hingga 12 persen. Kondisi tersebut berpotensi membuat kuota BBM subsidi yang telah ditetapkan pemerintah menjadi tidak mencukupi. Karena itu, dampak kenaikan harga Pertamax perlu diantisipasi sejak dini agar tidak mengganggu pasokan bahan bakar di berbagai daerah.
Yusuf menjelaskan, risiko terlampauinya kuota mulai muncul ketika tingkat migrasi pengguna Pertamax ke Pertalite mendekati 11,3 persen. Apabila jumlah pengguna Pertamax yang beralih semakin besar, pemerintah kemungkinan perlu mengambil langkah tambahan untuk menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan BBM subsidi.
Menurutnya, kebijakan penyesuaian harga Pertamax memang dapat membantu mengurangi tekanan terhadap anggaran negara karena Pertamax merupakan BBM nonsubsidi. Namun, apabila perpindahan pengguna Pertamax ke Pertalite karena naiknya harga Pertamax tidak terkendali, beban subsidi energi justru berpotensi meningkat. Dengan demikian, manfaat penghematan anggaran dari penyesuaian harga Pertamax bisa berkurang akibat naiknya konsumsi BBM subsidi.
Selain itu, Yusuf menilai pengawasan distribusi harus diperkuat agar Pertalite benar-benar digunakan oleh masyarakat yang berhak menerima subsidi. Pemerintah juga perlu memastikan pasokan BBM subsidi tetap tersedia secara merata sehingga tidak terjadi kelangkaan akibat meningkatnya permintaan pasca kenaikan harga Pertamax.
Sebelumnya, PT Pertamina Patra Niaga resmi melakukan penyesuaian harga Pertamax mulai 10 Juni 2026. Harga Pertamax atau BBM Pertamax jenis RON 92 naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter. Selain Pertamax, harga Pertamax Green 95 juga mengalami kenaikan dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter. Penyesuaian harga Pertamax dilakukan setelah mempertimbangkan perkembangan harga minyak dunia dan harga pasar.
Di tengah kenaikan harga Pertamax, pemerintah memutuskan mempertahankan harga Pertalite di level Rp10.000 per liter dan Biosolar subsidi Rp6.800 per liter. Kebijakan tersebut diambil untuk menjaga daya beli masyarakat serta memastikan kebutuhan energi tetap terjangkau.
Sejumlah pengamat menilai perbedaan harga Pertamax dan Pertalite yang semakin lebar berpotensi mengubah pola konsumsi masyarakat. Kenaikan harga Pertamax juga diperkirakan membuat sebagian konsumen lebih selektif dalam menentukan jenis bahan bakar yang digunakan.
Oleh karena itu, pemerintah dan Pertamina diharapkan dapat memperkuat pengawasan distribusi serta menjaga ketersediaan stok BBM subsidi di seluruh SPBU. Dengan adanya kenaikan harga Pertamax, perhatian terhadap konsumsi Pertalite diperkirakan akan semakin meningkat. Pemerintah pun diminta memastikan kebijakan subsidi energi tetap tepat sasaran sehingga stabilitas distribusi BBM nasional dapat terus terjaga di tengah perubahan harga Pertamax yang terjadi saat ini.
Baca juga Harga Pertalite Hari Ini Tetap Rp10.000 per Liter, Berapa Harga Pertamax Hari ini?




