Suara Online – Kebiasaan flexing atau memamerkan gaya hidup di media sosial kembali ramai dibahas netizen. Mulai dari pamer kendaraan, liburan, gadget mahal, hingga slip gaji kini sering muncul di TikTok, Instagram, dan X.
Fenomena ini membuat banyak pengguna internet mempertanyakan kenapa budaya flexing semakin sering terlihat, terutama di kalangan anak muda.
Di media sosial, tidak sedikit netizen yang mengaku merasa lelah melihat konten pamer kekayaan yang terus muncul di timeline mereka setiap hari.
Banyak Anak Muda Mengaku Jadi Insecure
Salah satu hal yang paling ramai dibahas adalah dampak flexing terhadap kondisi mental pengguna media sosial.
Banyak netizen mengaku tanpa sadar mulai membandingkan hidup mereka dengan orang lain setelah terlalu sering melihat konten flexing.
Komentar seperti “lihat orang lain sukses terus bikin minder” hingga “baru buka TikTok langsung insecure” ramai muncul di media sosial.
Sebagian pengguna internet merasa tekanan sosial sekarang semakin besar karena standar hidup di media sosial terlihat jauh lebih tinggi dibanding kehidupan nyata.
Flexing Dinilai Muncul karena Validasi Sosial
Banyak pengguna media sosial menilai budaya flexing muncul karena orang ingin mendapatkan pengakuan dan validasi dari internet.
Jumlah likes, views, dan komentar sering dianggap menjadi ukuran kesuksesan atau status sosial seseorang di media sosial.
Karena itu, tidak sedikit orang rela menunjukkan barang mahal, gaya hidup mewah, hingga penghasilan mereka demi mendapatkan perhatian publik.
Fenomena ini semakin kuat karena algoritma media sosial cenderung mendorong konten yang memancing rasa kagum dan penasaran pengguna lain.
TikTok dan Instagram Ikut Disorot
TikTok dan Instagram menjadi platform yang paling sering disebut dalam pembahasan soal flexing.
Konten seperti room tour mewah, penghasilan fantastis, koleksi kendaraan, hingga “sehari habis uang berapa” kini sering viral dan ditonton jutaan orang.
Sebagian netizen menganggap konten seperti itu bisa memotivasi. Namun ada juga yang merasa budaya flexing justru membuat banyak orang berlomba terlihat kaya di internet.
Fenomena ini membuat media sosial dinilai semakin penuh tekanan sosial, terutama bagi anak muda.
Tidak Semua Flexing Dianggap Negatif
Meski ramai dikritik, ada juga netizen yang menilai flexing tidak selalu buruk.
Sebagian orang menganggap membagikan hasil kerja keras di media sosial adalah hal wajar selama tidak merendahkan orang lain.
Namun banyak pengguna internet tetap mengingatkan pentingnya membedakan antara motivasi dan pamer berlebihan.
Media Sosial Dinilai Mengubah Cara Orang Menilai Kesuksesan
Ramainya pembahasan soal flexing menunjukkan bahwa media sosial kini ikut memengaruhi cara masyarakat melihat kesuksesan.
Jika dulu pencapaian bersifat lebih pribadi, sekarang banyak orang merasa harus menunjukkannya secara online.
Akibatnya, budaya perbandingan sosial semakin sulit dihindari, terutama di kalangan generasi muda yang aktif menggunakan media sosial setiap hari.
Baca Juga : Tren Side Hustle Makin Ramai di Kalangan Gen Z




