Suara Online – Fenomena doomscrolling kini semakin ramai dibahas di media sosial, terutama di kalangan anak muda dan pengguna internet aktif.
Istilah doomscrolling digunakan untuk menggambarkan kebiasaan terus-menerus scrolling konten negatif, berita buruk, atau informasi yang memicu kecemasan di media sosial.
Banyak orang mengaku awalnya hanya ingin membuka TikTok, X, atau Instagram sebentar. Namun tanpa sadar, mereka bisa menghabiskan waktu berjam-jam melihat berita negatif, drama internet, konflik, hingga isu ekonomi yang membuat pikiran semakin lelah.
Banyak Netizen Mengaku Mental Cepat Lelah
Di TikTok dan X, banyak pengguna media sosial mulai membagikan pengalaman mereka soal doomscrolling.
Sebagian netizen mengaku setelah terlalu lama scrolling, mereka justru merasa cemas, overthinking, hingga sulit tidur.
Komentar seperti “niatnya cari hiburan malah tambah stres” atau “habis scroll langsung capek mental” ramai muncul di media sosial.
Fenomena ini membuat banyak orang merasa tidak sendirian karena ternyata kebiasaan doomscrolling dialami banyak pengguna internet lainnya.
Algoritma Media Sosial Ikut Disorot
Banyak pengguna internet menilai algoritma media sosial ikut membuat doomscrolling semakin sulit dihentikan.
Konten yang memicu emosi seperti kemarahan, ketakutan, atau rasa penasaran biasanya lebih sering muncul di timeline karena dianggap mampu meningkatkan interaksi pengguna.
Akibatnya, pengguna terus terdorong untuk scrolling tanpa sadar meski konten yang dilihat justru membuat mental lebih lelah.
Sebagian netizen bahkan mengaku sulit berhenti membuka media sosial meski tahu konten yang mereka lihat berdampak buruk terhadap suasana hati.
Gen Z Dinilai Paling Rentan
Fenomena doomscrolling paling banyak dibahas di kalangan Gen Z karena generasi muda dianggap paling dekat dengan media sosial.
Banyak anak muda sekarang menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari di TikTok, Instagram, atau X untuk mencari hiburan maupun informasi.
Namun karena timeline media sosial bercampur antara hiburan dan berita negatif, banyak pengguna akhirnya terus terpapar konten yang memicu kecemasan.
Sebagian pengguna internet mulai mencoba mengurangi screen time atau melakukan digital detox untuk menjaga kesehatan mental mereka.
Media Sosial Dinilai Ubah Cara Orang Mengonsumsi Informasi
Ramainya pembahasan doomscrolling menunjukkan bahwa media sosial kini tidak hanya menjadi tempat hiburan, tetapi juga sumber stres baru bagi sebagian orang.
Jika dulu orang mencari berita lewat televisi atau portal berita tertentu, sekarang informasi negatif bisa muncul terus-menerus lewat algoritma media sosial.
Akibatnya, banyak pengguna internet merasa lebih sulit menjaga kondisi mental karena terus terpapar berita buruk setiap hari.
Fenomena doomscrolling diperkirakan masih akan terus berkembang seiring meningkatnya penggunaan media sosial di kalangan generasi muda.
Baca Juga : Netizen Soroti Kebiasaan Flexing di Media Sosial, Banyak Anak Muda Dinilai Makin Insecure




